SP Sr Yosepha KKS

Tuhan memang punya cara unik dan kejutan dalam memanggil saya untuk menjadi suster di biara KKS. Awalnya, saya sama sekali tidak mempunyai cita-cita untuk menjadi suster. Cita-citaku setelah SMA (tahun 1983) adalah mau jadi polisi wanita atau perawat bidan.

Ketika beberapa paroki di Palembang mengadakan aksi panggilan pada minggu panggilan Paroki St. Paulus Plaju diundang untuk ikut serta. Saya tidak berminat tetapi dipaksa oleh Ketua Mudika harus ikut. Alasannya karena sekretaris mudika, maka saya ikut dengan hati yang penuh tanya.

Sesampai di Rumah Retret Km 7 Girinugraha kami disambut dengan ramah oleh panitia. Di sini untuk pertama kalinya saya melihat banyak suster dengan jubah putih dan mudika yang lain dari paroki Palembang. Jubah putih itu sangat menggetarkan hatiku, seolah-olah ia mengatakan ”Di sini ada kedamaian yang kamu cari…”

Memang selama ini saya sering bertanya apa tujuan sesungguhnya hidup manusia? Apakah hanya mengalami lahir, dewasa, nikah, tua, lalu mati dan berakhirlah hidup itu. Saya bertanya tetapi tidak menemukan jawabannya. Jubah itu seakan memberi jawaban akan tujuan hidup yang kutanyakan. Ternyata ada cara yang lebih khusus untuk mengabdi Tuhan selain berkeluarga.

Dalam acara rekoleksi ada kelompok-kelompok untuk syering dan saya ditunjuk untuk jadi ketua kelompok. Dalam setiap kelompok ada seorang suster yang mendampingi. Suster yang mendampingi kami adalah Sr. Agnes, FCh. Ia syering pengalaman hidupnya sebagai suster. Selesai syering kami diberi kesempatan untuk bertanya. Karena untuk pertama kali saya bertemu dengan suster saya banyak mengajukan pertanyaan. Meski demikian hatiku belum merasa tertarik akan cara hidup suster.

Acara rekoleksi panggilan itu ditutup dengan perayaan Ekaristi. Dalam kotbahnya Romo Christianus Kolvenbag SCJ mengatakan, “Hai kamu anak muda sebenarnya kamu dipanggil, hanya kamu mau jawab atau tidak. Mulai sekarang para suster dan romo dari Eropa dilarang masuk ke Indonesia. Siapa yang akan menggantikan mereka jika mereka semua sudah tua dan meninggal dunia, kalau bukan kamu!”

Hal ini lagi-lagi menggetarkan hatiku. Saya merasa seolah-olah Tuhan sendiri yang mengatakan kepadaku “kamu yang menggantikan mereka”. Sejak saat itu saya merasa harus mencoba untuk mendengarkan panggilan ini. Ketika pulang saya bertanya kepada teman mudika, bagaimana perasaannya mendengar kotbah romo tadi. Ia menjawab “biasa saja”. Jawaban yang sama saya peroleh dari dua teman saya lainnya (namanya Anna Mimi dan Linda). Perasaanku terus menggelitik “Aku harus mencoba untuk menjawab panggilan-Nya.”

Anna Mimi sangat mendukung tekad saya, walaupun ia sendiri tidak tertarik. Ia mau menemaniku mencari informasi di Biara Charitas pusat. Saya dan Anna bertemu dengan seorang suster yang menjelaskan secara singkat saja. Mungkin suster itu sedang sibuk. Saya merasa tidak pasti harus berbuat apa. Lalu kami berjanji akan ketemu lagi lain waktu.

Tetapi hal ini tidak pernah terjadi lagi karena saya menjawab ajakan seorang ibu, namanya Magdalena, untuk melamar ke KKS (ternyata ia calon Novis KKS saat itu. Saya tahu setelah di Bangka, namun ia keluar beberapa bulan setelah saya  postulan). Ia mengetahui dari teman-teman mudika bahwa saya ingin jadi suster, maka ia mengajak saya untuk langsung melamar ke KKS. Saat itu hanya satu pikiranku “Ke Bangka boleh juga, agar saya tidak diganggu oleh keluarga jika jarak sudah jauh.” Cita-citaku yang lain tak kuingat lagi, saya membulatkan tekad hati untuk mencoba menjawab panggilan-Nya.

Ketika saya mengatakan kepada bapak niat saya, bapak mengatakan “Jika hal ini membuat hidupmu bahagia saya tidak melarang, jalanilah dengan baik dan serius.” Hal ini merupakan dukungan bagiku. Tetapi jawaban ibu yang tidak kumengerti saat itu, karena ibu tidak menjawab sepatah katapun. Ibu hanya menangis. Setelah lama menjadi suster saya sempat bertanya arti tanggisan ibu saat itu. Ibu mengatakan bahwa ia bangga dan terharu, karena untuk menjadi suster tidak mudah dan tidak sembarang orang dipanggil. Itulah arti tangisan ibu.

Saya dibantu ibu Magdalena untuk memenuhi semua syarat yang dibutuhkan. Saya ingat ketika saya meminta surat rekomendasi dari Rm. Petrus Abdi Putra Raharja SCJ selaku pastor kepala paroki, beliau bertanya, “Mengapa kamu mau ke Bangka, di Palembang saja ada suster Charitas?“ Saya diam seribu bahasa, tidak tahu mau menjawab apa. Namun surat rekomendasi tetap dibuat dan saya menerimanya dengan senang hati. Setelah semua syarat beres saya dengan Ibu Magdalena berangkat ke Pangkalpinang dengan pesawat terbang.

Sampai di Novisiat KKS Jl. Melintas (sekarang TB Gramedia) disambut dengan ramah oleh Sr. Yustina dan Sr. Calixta. Saya masuk dan menjalani masa postulan pada 15 Juli 1983. Saya merasa betah bersama para suster. Semua yang diajarkan kepada saya banyak hal baru dan itu saya jalankan dengan serius, dan penuh semangat persaudaraan.

Sr. Theresia sebagai pemimpin Postulan dan Novis, orang yang gembira, sederhana, dan baik hati. Berkat beliau saya telah mengenal panggilan-Nya ini dengan terus berjuang dalam semangat Keluarga Kudus Nasaret. Kasih setia Keluarga Kudus telah menumbuhkan dalam diriku untuk turut serta dalam mewartakan Yesus dengan cara hidup yang saya alami sebagai hidup yang dulu kucari sekarang telah kutemukan. Terima kasih keluarga Kudus Yesus Maria Yosef telah mengantarku ke KKS yang kucinta.

 

Sr. Yosepha Bahkeetah KKS.

image_pdfimage_print

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*