SP Sr Vianney KKS

Saya bernama Christina Njo Mei Fang dan saya keturunan Tionghoa dari Medan. Saya berasal dari keluarga Katolik dan mengenyam pendidikan di sekolah Katolik dari TK-SMA. Saya anak bungsu dari 2 bersaudara dan saya memiliki seorang Koko.

Saya tertarik untuk hidup panggilan bermula dari kotbah seorang imam yang begitu menarik hati semua umat yang mendengarkannya dan saya tertarik untuk menjadi seperti itu. Ini terjadi saat saya masih di bangku SD.

Ketika SMP, sepupu saya ditahbiskan menjadi imam Keuskupan Padang. Peristiwa ini semakin menumbuhkan benih panggilan dalam diri saya. Dan saat kelas II SMA, saya mengikuti kegiatan Tenaga Prana untuk membantu pelayanan bagi orang sakit yang dikelola seorang Br. Tarsisius OFM Cap dan kegiatan pencak silat THS-THM yang dilatih oleh para frater Pangkalpinang dari Pematangsiantar. Lewat mereka panggilan saya tumbuh semakin kuat.

Akan tetapi, tumbuhnya benih panggilan itu bukannya tanpa halangan. Kegiatan seharian saya pergi sekolah dan hari minggu ke Gereja. Saya kurang terlibat kegiatan dalam Gereja dan kurang mengetahui kehidupan membiara. Saya mengikuti doa lingkungan hanya untuk menemani papa, sebab saya sayang pada papa, sehingga saya rela meninggalkan kesenangan untuk nonton/bermain. Dalam doa lingkungan, setiap kali dalam doa umat, papa selalu berdoa untuk mereka yang terpanggil menjadi imam dan biarawan/wati agar tetap setia dan juga mohon panggilan untuk menjadi imam dan biarawan/wati dari antar kaum muda-mudi.

Setelah kelas III SMA, saya harus menentukan pilihan untuk melanjutkan kemana, pada saat itu muncul kembali keinginan untuk hidup panggilan. Saya ingin hidup panggilan, namun saya tidak tertarik untuk menjadi suster. Saya tidak suka dengan suster, karena saya mempunyai pengalaman yang kurang menyenangkan terhadap suster. Kesan saya suster itu pilih kasih dalam mendidik kami anak-anak waktu di TK dan juga galak. Akan tetapi, tidak ada pilihan lain bagi perempuan selain menjadi suster.

Saya mulai mencari kongregasi dari buku petunjuk Gereja yang saya pinjam dari Bruder. Saya mencatat nama-nama kongregasi yang namanya bagus sebab saya belum mengetahui visi-misi kongregasi. Saya tidak mau masuk kongregasi yang ada di Medan. Alasannya saya mengenal diri yang tidak pernah berpisah dari orangtua/merantau dan saya mudah untuk pulang kalau saya mendapat tantangan/kesulitan.

Saya menjadi anggota auxiler Legio Maria untuk memenuhi janji bila ujian saya bagus. Saya menemani Papa yang retret Legio Maria dan saya berkenalan dengan teman Legio dan di sana saya diperkenalkan dengan Br. Martinus Situmorang BM yang berkarya di Pangkalpinang. Dia seorang yang baik dan saya diberi alamat Bruder. Ketika saya mengikuti kegiatan Prana,  saya diperkenalkan untuk masuk biara KKS di Pangkalpinang yang banyak suster orang Tionghoa.

Pengalaman ketika saya ikut THS-THM, saya kenal dengan para frater yang berasal dari Keuskupan Pangkalpinang. Akhirnya saya memutuskan untuk masuk biara KKS di Pangkalpinang. Prinsip saya waktu itu yang penting bukan di Medan. Saya juga tidak tahu dimana letak Pangkalpinang, dan Pulau Bangka dan saya juga tidak tahu dimana.

Saya bersurat dengan Bruder Martinus, BM dan beliau yang memperkenalkan dengan Suster Pimpinan Umum KKS. Kemudian saya bersurat dengan Suster KKS. Saya menyampaikan keinginanan saya setelah tamat untuk masuk biara di Pangkalpinang kepada orangtua. Ketika mendengar keinginan tersebut papa langsung menyetujui dan mendukung, sedangkan mama awalnya keberatan, karena saya yang nantinya diharapkan untuk merawat orangtua. Namun akhirnya atas bujukan papa, mama setuju. Sementara dari pihak keluarga sebagian kurang mendukung atas keputusan tersebut dan mereka tidak yakin saya dapat hidup membiara.

Saya tetap pada keputusan untuk hidup membiara walaupun saya sama sekali tidak mengetahui tentang hidup membiara dan saya juga tidak yakin dapat menjalani hidup membiara karena saya orangnya “tomboy” dan saya tidak pernah jauh dari orangtua. Saya selalu ingat pesan mama, ketika saya pamit untuk berangkat diantar oleh papa sampai biara. Mama berpesan agar saya tetap pada pilihan jangan keluar masuk biara dan jadilah suster yang baik. Hal ini memotivasi saya ketika mengalami krisis dalam panggilan. Saya yang memutuskan untuk hidup membiara, maka saya juga harus bersedia menjalaninya dengan segala konsekuensinya.

Awalnya saya berpikir hidup membiara itu tanpa masalah/kesulitan. Namun bayangan itu bertentangan dengan realitanya. Tantangan dan masalah selalu mengiringi perjalanan hidup membiaraku. Saya melihat bahwa setiap tantangan/kesulitan semakin mendewasakan saya untuk setia di dalam panggilan. Saya ingat pesan Mama.

Pesan saya bagi kaum muda dalam menentukan hidup panggilan, agar mereka mendengarkan suara hati dan jangan takut sebelum berjuang. Jangan melihat kekurangan atau ketidak-layakan diri dengan kata orang, tapi percaya bahwa Tuhan sendiri yang melengkapi dengan rahmat-Nya dan kita terbuka untuk mau bekerjasama dengan rahmat Tuhan.

Panggilan apapun dalam hidup memiliki konsekuensinya. Maka jangan menyerah ketika mengalami krisis, sebab kesulitan dan tantangan semakin mendewasakan kita di dalam panggilan hidup. Kita harus berani mengambil keputusan untuk menjalani pilihan hidup dengan segala konsekuensinya, sebab pilihan hidup bukan hanya dipikirkan dan dirasa-rasakan, tapi harus dijalani. Jangan mudah menyerah dan harus mau mencoba menjalani hidup panggilan, sebab bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.

 

Sr. Christina Vianney, KKS

image_pdfimage_print

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*