SP Sr Morta SSCC

Saat berada di SMEA Teladan Pematangsiantar, saya mulai tertarik untuk menjadi suster. Pertama-tama karena perjumpaan saya dengan seorang suster yang menjadi guru agama di sekolah tersebut. Satu hal yang menyentuh hati saya pada waktu itu karena suster itu mau mengajar kami meski tanpa uang. Dia bekerja bukan semata-mata untuk uang tetapi lebih pada pelayanan. Dari situ saya tersentuh dan dalam hati saya berkata: aku mau melayani seperti suster itu. Seiring berjalannya waktu, saya meminta kepada orangtua supaya saya masuk suster tetapi mereka tidak setuju. Akhirnya panggilan itu terkubur.

Setelah lulus dari SMEA, saya merantau ke pulau Batam untuk bekerja. Ketika tiba di Batam yang pertama-tama saya cari adalah Gereja Katolik karena bagi saya itulah yang terpenting. Saya tinggal di Bengkong. Setelah itu baru saya melamar pekerjaan dan diterima bekerja. Selama 6 tahun bekerja, saya aktif di Paroki dalam kegiatan koor, mendampingi anak-anak sekolah Minggu, doa Lingkungan dan kegiatan MUDIKA.

Bagi saya gereja adalah sangat penting dan saya merasa tidak rugi meluangkan banyak waktu di gereja. Pada waktu itu, Bengkong belum mempunyai gedung gereja seperti sekarang ini. Dulu umat merayakan misa masih di Sekolah SD Sinar Timur Bengkong Harapan. Para MUDIKA-lah yang menyiapkan tempat setiap hari Sabtu untuk Misa hari Minggu. Meskipun demikian kami tetap semangat. Saya pribadi sangat senang terlibat aktif dalam kegiatan di gereja dan senang membantu di pastoran karena saya merasa tidak rugi dan tidak sia-sia dekat dengan gereja maka saya aktif dalam kegiatan menggereja.

Saya sering juga berkunjung ke pastoran Bengkong. Saya merasakan persaudaraan yang akrab dengan para pastor SS.CC di paroki. Mereka menerima saya apa adanya. Almarhum Pastor Rolf SS.CC memperkenalkan kepada saya Father Damian, seorang pastor Kongregasi Hati Kudus Yesus dan Maria yang sekarang sudah menjadi santo. Kemudian saya membaca sejarah hidup, panggilan dan karyanya. Saya sangat tersentuh dengan perjuangan hidupnya serta pemberian dirinya dalam melayani orang yang paling hina, tersingkir, dan yang dianggap sudah mati oleh karena penyakit yang mereka derita. Setelah itu, saya merenungkan dan berdoa, serta bimbingan kepada romo,  akhirnya saya tertarik dan memilih Kongregasi SS.CC.

Mengapa Memilih SS.CC

Selama saya bekerja, saya merasa diterima oleh para pastor SS.CC yang saya kenal dan yang pernah berkarya di Batam. Perjumpaan saya dengan mereka, saya refleksikan bahwa melalui persaudaraan yang saya alami dengan para pastor SS.CC membuat hati saya tertarik untuk menjadi bagian dari mereka. Setiap saya datang ke pastoran saya selalu diterima dengan baik. Kemudian saya disuguhi dengan buku Father Damian.

Setelah membaca riwayat hidup panggilan dan pelayanan Father Damian, saya terinspirasi oleh semangat hidup dan pelayanannya yang menggelora untuk melayani dan merawat orang-orang yang diasingkan, disingkirkan dan bahkan dibuang. Mereka yang sakit dan menderita seharusnya diperhatikan tetapi malah dibuang oleh pemerintahnya. Mereka masih hidup tetapi dianggap sudah mati oleh karena penyakit kusta yang mereka derita. Penyakit kusta adalah penyakit menular dan sangat menjijikkan.

Selain semangat hidup dan pelayanan St. Damian, saya juga termotivasi karena adorasi yang dihidupi oleh anggota Kongregasi SS.CC yaitu bersembah sujud di depan sakramen Maha Kudus untuk menyilihkan dosa-dosa pribadi dan dosa-dosa dunia. Karisma atau semangat yang harus kami hidupi sebagai pembakti Hati Kudus Yesus dan Hati Tersuci Maria adalah mengkontemplasikan, menghidupi dan mewartakan cinta kasih Allah kepada dunia.

Suka-duka Perjalanan Hidup Panggilan

Saya mengalami banyak sukacita dalam hidup panggilan sebagai seorang suster Kongregasi Hati Kudus Yesus dan Hati tersuci Maria (SS.CC). Saya bahagia menjadi putri SS.CC, atas panggilan Tuhan. Dia memanggil dan memakai saya secara istimewa untuk menjadi alat dan perpanjangan tangan, mulut dan kaki-Nya untuk melayani umat-Nya. Saya mempunyai kesempatan untuk belajar dan melayani; saya mempunyai banyak saudara dan saudari dalam Kongregasi di banyak negara.

Saya juga diberi kesempatan untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah Kongregasi di Perancis, yaitu tempat lahir para pendiri dan tempat berdiri Kongregasi SS.CC, memiliki banyak pengalaman, pengetahuan dan wawasan yang luas serta tidak pernah hanya di satu tempat, pasti ada saatnya pindah. Saya mempunyai waktu khusus untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Saya diutus untuk menjadi sahabat bagi mereka yang miskin dan menderita. Memang yang menjadi dilema bagi saya ketika berjumpa dengan saudara-saudari yang seperti itu, mungkin saya tidak bisa membantu secara material tetapi saya bisa berdoa untuk mereka dan saya bisa hadir untuk mendengarkan mereka.

Pengalaman suka yang saya rasakan tak luput juga dari pengalaman duka. Ketika ada anggota keluarga yang sakit, belum tentu saya bisa langsung pulang untuk mengunjunginya. Terkadang tempat pelayanan, langsung diatur oleh pimpinan Kongregasi tanpa sepengetahuan saya, sehingga enak atau tidak enak saya harus diterima. Terkadang juga saya merasa bosan dan kering ketika umat susah dan degil, semaunya saja dan sulit dibimbing, juga bila berhadapan dengan pastor yang cuek dan tidak mau kerjasama dalam mewujudkan pelayanan gereja.

Tantangan yang besar adalah ketika berhadapan dengan kaum muda yang terobsesi dengan hal-hal duniawi. Bagaimana saya menghadirkan diri sebagai pembakti hidup kepada Tuhan dan memberi kesaksian hidup di tengah-tengah umat untuk menarik perhatian dan menggugah hati kaum muda untuk memilih jalan hidup bakti.

Harapan bagi Kaum Muda

Melihat perkembangan dunia yang sangat maju dan sangat menggoda, rasanya sulit untuk mendapatkan pemuda dan pemudi yang bersedia dan rela memberikan diri dan membaktikan hidupnya pada pelayanan Tuhan dan sesama. Namun, saya tetap berdoa dan berharap agar kaum muda-mudi Katolik mau membuka hati dalam menanggapi rahmat Allah yaitu rahmat panggilan khusus untuk menjadi biarawan-biarawati demi kelangsungan hidup gereja dan demi keselamatan banyak orang menuju kerajaan Allah.

Untuk itu, saya mengajak rekan-rekan muda untuk memikirkan masa depan Gereja. Kalau bukan kalian, siapa lagi yang akan meneruskan hidup gereja kita. Kaum muda Katolik adalah masa depan gereja yang dibanggakan. Beranikah kaum muda meninggalkan segalanya demi kerajaan Allah? Upahmu besar di sorga. Namun Gereja perlu memberi tempat dan menerima mereka apa adanya, serta perhatian secara istimewa kepada kaum muda.

Menjadi bahan inspirasi bagi saya: “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.” (Ibr 12:14).

 

Sr, Morta, SSCC

image_pdfimage_print

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*