SP Sr Mariane JMJ

Sebelum memulai sharing perjalanan hidup panggilan, perkenankan saya memperkenalkan diri terlebih dulu. Nama saya Sr. Marianne Wayan Rusmiarti, JMJ. Saya anak pertama dari enam bersaudara, 4 perempuan dan 2 laki – laki. Saya lahir di Palasari (Bali) dari keluarga yang sederhana. Orangtua saya berdarah Bali asli yang pada awalnya penganut agama Hindu yang taat dan saleh. Mereka pindah ke Palasari (Bali Barat) yang akhirnya di tempat inilah mereka tertarik dan belajar mengenal siapa itu Yesus dan akhirnya mereka dibaptis masal.

Pada tahun 1973 kedua orangtua saya mengikuti program transmigrasi ke Kabupaten Kolaka (SULTRA). Di sini, walau orangtua saya belum memahami betul tentang ajaran iman katolik, belum lagi tidak adanya guru agama/katekis, kunjungan imam yang bisa dihitung jari dan hal itu terjadi cukup lama, namun situasi itu bukan menjadi penghalang bagi orangtua saya untuk melalaikan tugas dan tanggung-jawabnya dalam hal mendidik dan menanamkan iman katolik kepada kami putra-putrinya. Sejak kecil orangtua saya setia mendampingi dan mendidik justru dari kekurangan mereka tentang iman katolik supaya kami tekun dan taat beragama.

Saya mulai merasa terpanggil ketika saya duduk di kelas 3 SMP, ketika saya mengikuti kegiatan Camping Rohani se-Sultra yang terdiri dari 5 Paroki. Namun perasaan itu sering saya abaikan karena merasa itu tidak mungkin dan orangtua pasti akan melarang. Setelah menyelesaikan SMP, saya memutuskan untuk melanjutkan ke SMA Negeri No 1 Rate-Rate Kabupaten Kolaka.

Lulus dari SMA, saya dihadapkan pada kebingungan untuk menentukan pilihan lanjutan sekolah. Saya tidak tahu jurusan apa yang cocok buat saya. Sementara itu ibu saya secara diam-diam sudah mengambilkan formulir dan jurusan yang cocok dengan saya. Ketika menyodorkan formulir jurusan yang ditentukan ibu, ibu memberi dua pilihan pada saya: kuliah atau dinikahkan dengan pria pilihan ibu.

Mendengar ultimatum seperti itu, tiba-tiba saya mendapat dorongan kuat untuk mengutarakan niat saya menjadi Biarawati. Padahal saya sama sekali belum memiliki gambaran sedikitpun tentang biarawati. Reaksi orangtua saya berbeda-beda. Ibu langsung mengatakan saya tidak akan bisa karena hidup seperti itu berat, tidak bisa jumpa keluarga lagi dan lain-lainnya. Kalau bapak waktu itu ternyata pemahamannya keliru, mengira saya akan masuk (suster) perawat yang pendidikannya ditempuh selama 3 tahun dan akan pulang ke rumah, sehingga beliau mengizinkan saya.

Setelah mendapat izin dari orangtua saya tinggal di salah satu Komunitas Suster Jesus Maria Joseph, yang tidak terlalu jauh dari rumah kami. Saya menjalani masa Pengenalan terhadap Kongregasi JMJ kurang lebih setahun. Kemudian saya mengikuti beberapa tes, seperti tes tertulis, tes kesehatan dan wawancara. Akhirnya saya dinyatakan lulus dan boleh mengikuti pendidikan kejenjang selanjutnya yaitu masa Postulat (1 tahun) dan Novisiat (2 tahun).

Setelah melalui masa novisiat saya diizinkan untuk Profesi sementara, tanda bahwa saya diterima sebagai anggota sementara pada Kongregasi JMJ. Setelah itu saya dan teman-teman yang lain harus hidup bersama dengan para suster di salah satu komunitas yang ada di seluruh Indonesia sambil terus mendapat pendampingan dan pembinaan dari komunitas. Masa 3 tahun atau selama mengikrarkan kaul sementara saya jalani dikomunitas Rumah Sakit.

Menjalani kehidupan bersama di komunitas besar tidaklah membuat saya terbebas dari masalah atau pengalaman yang tidak menyenangkan. Kadang kehidupan saya terasa semakin berat. Belum lagi saya harus menghadapi persoalan dalam tugas perutusan sebagai mahasiswi, dimana pagi sampai siang tugas di Rumah Sakit, sore sampai malam kuliah sisanya harus ikut kegiatan komunitas. Rasanya tak ada waktu untuk istirahat dan untuk diri sendiri. Tapi puji Tuhan semua itu dapat saya lalui dan itu semua tentu tidak lepas dari dukungan dan kerjasama dengan rekan-rekan suster dan kaum awam yang bekerjasama dengan kami, terlebih campur tangan dari Tuhan yang menjadi tujuan akhir dari kehidupan kita di dunia ini.

Di tahun-tahun terakhir saya banyak mengalami persoalan-persoalan atau masalah yang berkaitan dengan kehidupan pribadi, seperti kekeringan dalam hidup doa, masalah sakit yang sampai membuat setiap segi kehidupan saya menjadi kacau, dan masih banyak lagi masalah lain. Sedangkan persoalan kehidupan membiara seperti berelasi dengan sesama rekan suster, para Pastor, umat sekitar juga mengalami persoalan yang berbeda hal itu dilihat dari usia, budaya, watak yang berbeda-beda.

Ketika mengalami jatuh bangun yang hampir selalu membuat saya putus asa, saya tetap bertahan seraya memegang erat janji Tuhan, seperti yang dikatakan Rasul Paulus, “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai, Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar sehingga kamu dapat menanggungnya.” (1 Kor 10: 13). Dan saya tahu bahwa dengan berpegang erat kepada Tuhan saya akan selalu mengalami pertolongan-Nya.

Selama menjalani kehidupan sebagai seorang biarawati, sampai detik ini saya masih tekun membuat refleksi pribadi. Melalui refleksi saya semakin menyadari bahwa kehidupan di biara memang kelihatan “berat”, namun kita dapat bersama-sama melihat ke dalam kehidupan kita masing-masing adakah hidup kita saat ini selalu terasa enak dan tidak memberatkan. Apapun pilihan hidup kita, kita selalu mengalami konsekuensi bebasnya, konsekuensi yang muncul karena pilihan bebas kita. Setiap pilihan hidup kita akan selalu memiliki sisi menyenangkan maupun sisi yang kurang menyenangkan. Inilah yang dinamakan kehidupan.

Walaupun saya harus mengalami banyak kesulitan, bersosialisasi, berdamai dengan diri saya sendiri, relasi dengan Tuhan, dan sebagainya, namun saya masih dapat bertahan hingga sekarang. Walau saya mengalami bahwa hidup selibat itu berat, saya masih merasakan bahwa Tuhan sungguh memberkati hidup saya. Tuhan masih memberi saya KEBAHAGIAAN dan sekian banyak RAHMAT serta ANUGERAH kehidupan. Inilah dua kunci yang dapat dijadikan patokan bagi seseorang bahwa memang jalan hidup yang dialaminya saat ini sungguh merupakan pilihan hidup yang tepat bagi dirinya.

Jadi, apapun pilihan hidup kita saat ini, satu hal yang harus selalu kita pegang sebagai prinsip hidup kita adalah apakah aku bahagia dengan hidupku saat ini. Tidak ada bentuk kehidupan di dunia ini yang sepenuhnya hanya berisi hal-hal yang menyenangkan. Selama manusia hidup di dunia ini haruslah ia berjuang, dan perjuangan ini menandakan bahwa kehidupan ini memang sungguh berat! Tuhan sendiri mengundang kita untuk selalu datang kepada-Nya, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu”. (Matius 11: 28)

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan kita nanti, apa yang Tuhan rencanakan bagi hidup kita kelak. Satu hal dapat kita lakukan sebagai manusia adalah selalu ikut kehendak Tuhan, caranya dengan berserah. Inilah yang menjadi pegangan hidup saya saat ini. Bagaimana cara supaya kita dapat sedikit “tahu” terhadap rencana Tuhan ini dalam hidup kita? Yaitu dengan berdoa, menjalin relasi yang erat dan mendalam dengan Tuhan. Sebagaimana diteladankan oleh banyak nabi-nabi di perjanjian lama, salah satunya nabi Elia.

Dalam suatu retret terbimbing saya menggunakan kesempatan tersebut dengan niat untuk memperbaharui niat dan motivasi saya, serta relasi doa saya dengan Tuhan. Saya sadar bahwa tidak banyak yang dapat saya buat untuk sembuh dari sakit ini, maka dari itu saya hanya dapat berbuat semampu saya dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan lewat doa-doa. Saya percaya bahwa jika memang Tuhan menginginkan saya untuk menjadi mempelai-Nya, maka Dia pasti akan membantu saya untuk dapat keluar dari setiap persoalan yang saya hadapi. Saya hanya dapat berserah dan membuka diri dan hati untuk menerima rahmat kasih-Nya. Saya yakini jika Tuhan memberikan sesuatu hal bagi manusia, maka Dia akan menyelesaikannya pula. Jika Tuhan telah memulai sesuatu pekerjaan yang baik di dalam kita, Dia akan meneruskannya sampai pada kesudahannya (bdk. Filipi 1: 6).

 

Sr. Marianne Wayan Rusmiarti, JMJ

image_pdfimage_print

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*