SP Sr Kristina JMJ

Pada masa kecil, sebagai anak desa, aku sudah diajari oleh orangtua bekerja keras, menanam jagung memberi makan babi, dan ayam. Selain diajari bekerja aku juga diajari oleh orangtua untuk tekun berdoa. Orangtua selalu mengajakku untuk rajin ke Gereja, doa lingkungan, dan kegiatan-kegiatan rohani lainnya. Inilah benih iman yang ditaburkan oleh orangtua kepada kami anak-anaknya.

Keinginanku menjadi suster bukan melalui pengalaman luar biasa, seperti tokoh-tokoh yang dialami dalam Perjanjian Lama, misalnya Abraham, Samuel, Musa dan sebagainya. Akan tetapi pengalamanku berbeda. Tuhan tidak pernah memanggil saya secara langsung untuk menjadi seorang suster. Namun Ia menjumpai dan memanggil saya lewat peristiwa-peristiwa sederhana, yang nyaris saya lupakan. Atas dasar itulah, maka saya merasa bahwa panggilan Tuhan itu cukup istimewa dan misteri bagi saya.

Pada saat komuni kudus, saya melihat pakaian suster yang putih bersih dan rapi. Para suster terlihat seperti para malaikat surgawi. Pengalaman biasa lainnya, ketika selesai misa kudus, kami langsung keluar dan bersalam-salaman, dengan pastor dan suster. Aku merasa kagum dengan seorang suster, yang menyapa dengan lembut dan ramah, sambil membagikan permen kepada kami. Selain itu juga suster mengajarkan kami lagu-lagu sekolah minggu, sehingga terlintas dalam pikiranku Aku mau menjadi suster dan menjadi saluran berkat bagi orang lain.

Ketika aku mengikuti doa di lingkungan, aku selalu mendengar nama suster dan pastor disebut namanya dalam doa lingkungan. Hal ini membuat aku juga ingin disebut namaku dalam doa lingkungan. Agar namaku selalu disebut dalam doa, kumemilih untuk menjadi suster; harapanku terpenuhi. Ketika aku akan berangkat ke Makasar untuk menjalani masa aspiran, namaku disebut dalam doa di lingkungan. Wah senangnya bukan main.

Meniti pangilan, setelah menjalani masa aspiran, masa dimana aku diperkenalkan bagaimana kehidupan para suster di komunitas, dan rutinitas apa yang dilakukan setiap hari. Selama kurang lebih setahun, aku diperkenankan untuk masuk tahap berikut, yaitu tahap Postulan, masa perkenalan resmi selama setahun.

Di masa postulat inilah aku merefleksikan secara serius arah panggilan hidupku, terus melakukan discerment dan bertanya apakah Tuhan sungguh memangilku ataukah aku yang memanggilkan diri. Di dalam refleksiku aku menemukan sebuah jawaban bahwa Tuhan sungguh memanggilku lewat konggregasi yang aku pilih yaitu JMJ.

Hal ini membuat aku semakin yakin, bahwa Tuhan akan senantiasa menyertai, dan membimbing perjalanan panggilanku. Karena itu aku tidak perlu takut, tidak perlu cemas dan khawatir akan perjalanan panggilan dan tujuan hidupku. Sebaliknya, sikap yang mesti aku tumbuh-kembangkan adalah terbuka, pasrah, dan percaya kepada penyelenggaraan ilahi.

Menjalani panggilan sebagai, seorang birawati bukanlah mudah tetapi membutuhkan ketekunan kesetiaan dan pengorbanan. Bersama teman-teman kami dilatih untuk tekun berdoa, belajar, bekerja serta bertanggungjawab pada tugas dan pekerjaan. Di sana pulalah aku dilatih untuk setia pada pekerjaan, peraturan dan terlebih pada panggilanku. Selain kedua hal tersebut saya juga dilatih untuk berani mengorbankan banyak hal demi sesuatu yang lebih mulia yakni panggilan Tuhan. Aku harus rela meninggalkan orangtua, saudara-saudari, teman-teman, kampung halaman, mentaati segala aturan.

Pada mulanya tuntutan-tuntutan itu sangat berat. Terkadang ingin membebaskan diri dari segala macam aturan. Aku ingin menikmati masa-masa SMA di luar, bahkan kadangkala ingin pulang dan hidup bersama dengan orangtua dan saudara-saudariku. Namun demikian setelah menjalani hidup hari demi hari di dalam biara, aku sangat bersyukur karena telah mengalami semua itu. Aku ditempa menjadi manusia yang lebih baik oleh para pembimbing, guru-guru dan rekan-rekan sepanggilanku, bahkan diri saya sendiri dan terlebih oleh Tuhan.

Aku memilih konggregasi JMJ (Yesus Maria dan Yoseph), karena tertarik pada karya pelayanan Pater Mathias Wolff melayani orang miskin dan tersingkirkan, memberikan pendidikan bagi para remaja gadis baik untuk golongan kaya maupun yang miskin. Karya societas JMJ yang lain yaitu dalam bidang sosial dan pastoral dengan spiritualitas bapa pendiri kesiap-sediaan apostolis yang senantiasa menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Setelah menjalani masa postulat kurang lebih setahun, tahun 2002-2004 aku menjalani masa novisiat, masa inisiasi ke dalam cara hidup societas JMJ. Masa novisiat adalah masa indah dan masa penuh tawa persaudaraan dan rasa kekeluargaan menjadi pondasi yang mematangkan langkahku untuk menuju ke perutusan yang selanjutnya 2 tahun.

Satu tahun di novisiat, aku mendalami spiritualitas konggregasi dan kehidupan rohani yang menjadi dasar bangunan hidup religiusku. Tepatnya pada 29 Juli 2004 aku mengucapkan kaul pertama untuk tiga tahun. Dan setiap tahun diperbaharui. Tak dapat dipungkiri bahwa hidup membiara tidak selamanya indah. Ada saat dimana doa terasa kering dan membosankan, setan meraja dalam diri dan pada akhirnya mengandalkan kekuatan diri untuk menyelesaikan berbagai tugas harian dan perutusan. Kerendahan hati menjadi sirna oleh keegoisan diri. Syukur bahwa dalam situasi seperti ini masih banyak yang peduli, rekan-rekan suster yang senantiasa mengingatkan, sehingga tidak tenggelam dalam situasi seperti ini.

Hampir 14 tahun menjadi seorang religius JMJ, dari Postulan hingga sampai saat ini. Dari pengalaman jatuh dan bangun aku semakin melihat Rahmat kasih Allah yang luar biasa. Dia memanggil dan menuntunku dalam berbagai peristiwa hidupku. Lewat orang-orang di sekitarku, aku semakin yakin akan rencana Allah bagi hidupku untuk datang kepada-Nya membuka hati untuk-Nya dan tinggal bersama Dia, supaya aku juga bisa menjadi saluran berkat bagi orang lain.

Pengalaman cinta Tuhan yang saya alami dalam perjalanan hidupku dan dalam pergulatan panggilanku, menumbuhkan keinginan kuat untuk juga berbagi kasih dengan sesamaku yang lain. Meski kusadari ada banyak kelemahan dan kekurangan yang masih melekat, kelemahan yang terkadang menyurutkan langkahku untuk tegak berjalan, dan menggoyahkan niatku untuk setia mencari kehendaknya. Namun aku yakin Tuhan sendirilah yang menguatkan dan menambahkan segala sesuatunya.

Kasih Tuhan memampukanku berdiri teguh dan setia dalam panggilannya hingga sampai saat ini. Di akhir kata harapanku kepada orang-orang muda di Keuskupan Pangkalpinang ini semoga semakin banyak orang yang tertarik mengikuti panggilan Tuhan. Sehinnga nama Tuhan semakin dimuliakan. Menjadi biarawati itu enak lohhhh……

 

Sr. Kristina Kangronga, JMJ

image_pdfimage_print

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*