SP Sr Eleonara AK

“….Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku sejak dalam kandungan ibuku.” (Mazmur 139:13)

Mazmur di atas mengingatkan saya akan riwayat panggilan hidup membiara. Tuhan telah menenun aku sejak dalam kandungan ibuku. Aku dilahirkan pada 15 Agustus1969 di kota Semarang. Orangtuaku mengikuti program KB jaman dulu yaitu keluarga besar sehingga aku dilahirkan urutan no 5 dari 7 bersaudara. Sejak kecil orangtuaku mendidik anak-anaknya untuk rajin berdoa, hidup sederhana, rendah hati dan suka membantu orang lain.

Setiap malam sebelum tidur kami diajak berdoa bersama. Dengan sabar dan penuh kasih sayang ayah dan ibu mendampingi dan menuntun kami untuk berdoa dan belajar. Tidak lupa pula setiap hari Minggu kami bersama-sama berangkat ke Gereja St. Theresia Paroki Bongsari. Kebetulan rumah kami dekat dengan gereja, sehingga jalan kaki ramai-ramai. Dalam perjalanan, kami sering bercanda, tertawa penuh kebahagiaan, rasanya senang sekali. Sampai Gereja orangtua selalu mengajak kami duduk bangku paling depan, dengan alasan Tuhan memanggil kita untuk ikut dalam pesta perjamuan.

Tahun berganti tahun, tak terasa aku sudah duduk di bangku kelas 3 SD. Ketika pengumuman di gereja ada pendaftaran putra/putri altar, langsung aku daftarkan diri untuk mengikuti kegiatan itu. Suster Yustina PI pada waktu itu menjadi pembimbingnya. Sejak saat itulah mulai ada keinginan untuk menjadi biarawati. Suatu ketika putra/putri altar mengadakan rekoleksi, aku semangat sekali. Apalagi saat ada pertemuan yang membahas tentang cita-cita. Wah,  menggebu-gebu sekali. Sr.Yustina memanggil namaku dan bertanya cita-citaku kelak. Dengan lantang aku jawab, “Menjadi biarawati seperti suster Yustina!”

Benih panggilan yang sudah mulai tertanam dalam hatiku mulai surut ketika aku lulus SMP. Cita-citaku yang dulu menggebu-gebu ingin menjadi biarawati padam, berubah total. Aku tidak lagi tertarik, bahkan tidak ada sebersit keinginan untuk menjadi suster. Lulus SMP aku masuk SPG, sekolah yang mendidik menjadi seorang guru.

Saat di SPG aku mulai aktif kegiatan KSR (Korp Suka Rela) di PMI. Setiap hari aku bersama teman-teman mulai sibuk dengan berbagai kegiatan antara lain, membantu korban bencana alam, membantu dapur umum, mengadakan pengobatan, donor darah, membantu korban kecelakaan dll. Aku senang dengan kegiatan itu, dapat meringankan beban penderitaan orang lain. Hari-hariku penuh dengan kegiatan di PMI.

Pada hari Minggu panggilan, di Gereja St. Theresia Bongsari diadakan aksi panggilan dengan memperkenalkan bermacam-macam tarekat, baik konggregasi para suster, romo maupun bruder. Seluruh hari Minggu itu dipusatkan untuk para biarawan/biarawati. Saling berbagi pengalaman dan panggilan. Ketika perayaan Ekaristi, kotbah dialihkan dengan perkenalan salah satu suster dari tarekat Abdi Kristus.

Nama suster itu Sr. M. Theresiana AK (Abdi Kristus). Suster menceritakan tentang panggilan dan karya-karya yang ada di tarekat Abdi Kristus. Salah satu karya yang membuat aku mulai tumbuh kembali panggilanku adalah pelayanan dalam bidang sosial, yaitu melayani anak-anak Panti Asuhan di Ungaran – Semarang, di situlah pusat Konggregasi AK atau Abdi Kristus. Panggilanku yang sudah hilang bertahun-tahun mulai tumbuh lagi bahkan sejak saat itu ada terbersit dalam angan-anganku, untuk masuk biara jika aku lulus SPG nanti.

Cita-citaku untuk menjadi biarawati dengan sepenuh hati untuk melayani anak-anak Panti Asuhan, setiap hari berkecamuk dalam hatiku. Banyak hal yang aku inginkan setelah lulus SPG, salah satunya adalah aku akan membagikan kasih pada anak-anak yang miskin, tidak punya orangtua, dan anak-anak yang sangat membutuhkan perhatian dan cinta kasih. Setelah lulus SPG, aku sudah bertekad bulat untuk langsung masuk pendidikan calon suster. Tetapi orangtua tidak mengijinkan.

“Rencanaku, bukanlah rencana-Mu.” Maka aku melamar untuk bekerja di Panti Asuhan Ungaran. Di situ aku mulai banyak bergaul dengan para suster AK. Mereka sangat sederhana, lemah lembut dan murah senyum. Satu tahun sudah aku lewati, ternyata… orangtua belum juga memberi ijin. Dalam perjalanan waktu, aku mulai membuat suatu keputusan; menginjak tahun kedua aku masuk pendidikan postulan, meskipun tidak ada surat ijin dari orangtuaku. Aku tetap masuk pendidikan calon suster. Panggilan Tuhan sungguh indah. “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilihkamu.” (Yoh.15: 16)

Perjalananku selama menjadi biarawati sampai sekarang memang penuh liku-liku dan perjuangan tetapi semuanya sangatlah membahagiakan. Banyak sukaduka yang senantiasa mengiringi setiap langkahku, tetapi aku senang dengan cita-citaku melayani Tuhan, Gereja dan sesama dalam Konggregasi Abdi Kristus. Aku merasa bahwa Tuhanlah yang telah memilih aku. Suka dan duka yang aku rasakan tidak menjadi halangan untuk tetap mencintai panggilan Tuhan dengan penuh kegembiraan. Tuhan senantiasa mendampingi dan menuntun aku.

Pengalaman sukaku jika aku mampu melayani anak-anak yang menderita, yang kurang kasih sayang dari orangtua, dan aku mampu melaksanakan tugas Tarekat dengan baik. Sedangkan pengalaman dukaku jika pada saat-saat mulai adanya mutasi, perpindahan tugas. Namun kaul ketaatan senantiasa membantu aku untuk menerima tugas apapun dan tugas dimanapun dengan hati senang, lkhlas dan gembira, seperti kata-kata dari surat Petrus II “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” Dan kata-kata Yesus yang sungguh luar biasa melekat dalam hatiku ”Pergilah keseluruh dunia, wartakanlah Injil kepada semua orang.” (Markus 16:15)

“Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.” (Lukas 10: 2) Ladang Tuhan begitu luas, tetapi pekerja sangatlah sedikit. Tuhan senantiasa memanggil pemuda pemudi untuk bersedia bekerja di ladang-Nya. Dengan sabar dan penuh kesetiaan Tuhan menantikan kedatangan para pemuda dan pemudi untuk datang dan ikut bekerja bersama Tuhan.

Sekaranglah saatnya bagi semua kaum muda, untuk menjawab panggilan Tuhan dengan penuh kegembiraan, semangat dan sukacita, menanggapi dan menjawab ajakan Tuhan untuk bekerja bersama di ladang Tuhan. Semoga ladang Tuhan yang luas akan dipenuhi pekerja-pekerja yang giat dan selalu mewartakan kabar gembira bagi semua orang. Jawaban “ya” untuk kaum muda sungguh harapan bagi kita semua untuk melayani Tuhan.

 

Sr. M.Eleonora AK

image_pdfimage_print

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*