SP Sr Bene SSpS

Aku berasal dari keluarga non Katolik. Nenek beragama Kong Hu Chu. Papi dan Mami juga. Tiap bulan saat bulan purnama, mereka menyediakan teh pahit dan berdoa dengan lidi wangi. Bila ada perayaan, misalnya Hari Raya Imlek, Ching Bing, Sembahyang Rebutan, Tong Ju Pia dan lain-lain, mereka menyediakan 4 macam masakan di meja altar leluhur.

Sejak TK – SMP aku bersekolah di sekolah Katolik. Pertemuan pertama dengan suster ketika aku masuk Taman Kanak-Kanak. Aku takut pada suster yang mengajar agama Katolik, karena teman sebangkuku “menipu” dengan mengatakan bahwa suster itu bisa menyuntik. Aku takut disuntik, karena sampai balita, tiap bulan aku sakit dan selalu dibawa ke dokter. Setelah memeriksa, dokter selalu mengatakan pada perawatnya: “Suster, tolong disuntik.” Ketika itu aku tidak dapat membedakan suster biarawati atau suster perawat, yang kuingat adalah sebutan saja, yaitu suster.

Aku selalu keluar kelas saat pelajaran agama. Guru kelasku bertanya: “Kenapa kamu keluar kelas?” Aku jawab: “Aku takut, aku gak mau disuntik oleh suster”. Bu guru mengatakan bahwa suster itu tidak menyuntik, tapi aku tetap takut. Akhirnya bu guru membujukku, bila aku mau ikut pelajaran agama, suster akan memberi mainan. Aku setuju dan aku meminta tiga buah mainan kelinci dan aku mendapatkannya, aku membagi mainan itu dengan dua adikku.

Bertahun-tahun telah berlalu, suatu saat aku diterima bekerja di RS Panti Nirmala, Malang sebagai tenaga administrasi. Sr. M. Mathilda Misc mengajakku ke Lawang. Mereka akan rekoleksi, sedangkan aku boleh berjalan-jalan di Panti Lanjut Usia. Aku bertemu dengan seorang suster lanjut usia; ternyata itu Sr. M. Theresia. Beliau menyatakan keprihatinannya: “Saya ini sudah tua, tapi tidak ada calon suster yang masuk. Kalau kamu mau masuk dan menggantikan suster.” Kata-kata itu seperti mengalir saja, masuk dari telinga kiri keluar dari telinga kanan.

Suatu kali aku diajak dua ibu untuk ikut Kursus Teologi di Malang. Saat itu ada banyak tarekat yang ikut kursus: Frater Bunda Hati Kudus, Novis Pasionis, Suster Sang Timur, Suster Santa Perawan Maria, Suster SSpS. Aku berkenalan dengan mereka.

Suatu hari seorang teman mengajak untuk mengikuti retret panggilan Keuskupan Malang di Pertapaan Ngadireso. Saat hening, tiba-tiba suara Sr. M. Theresia Misc tergiang kembali. Tapi selesai retret, situasi rutinitas berjalan seperti biasa.

Pada perayaan syukur 450 tahun Gereja di Indonesia, aku membantu stand kelompok Karismatik yang menjual buku, kaset, CD. Aku bertemu dengan Pastor Benedictus Udjan Genule SVD. Setelah itu aku beberapa kali bertemu dan berbicara tentang masa depan hidupku. Suatu saat Pastor Ben Udjan memberiku doa Novena Roh Kudus, sambil berpesan: “Berdoalah Novena Roh Kudus. Setelah membuat keputusan, engkau boleh datang lagi menemui saya.” Akhirnya aku mengambil keputusan untuk masuk SSpS.

Masa Aspiran, masa Postulan, masa Novisiat berjalan lancar walau ada gesekan-gesekan kecil dengan teman-teman seangkatan. Wajarlah karena kami berasal dari latar belakang keluarga, budaya dan suku yang berbeda. Pribadiku cenderung emosional, cepat meledak, berusaha “menyerang” dulu sebelum diserang, walaupun sering kali aku merasa “kalah” Apalagi aku masih sulit bicara. Dalam relasi dengan sesama yang sering memojokkan dan menyalahkan aku  terus  menerus. Menghadapi persoalan-persoalan ini aku mohon bimbingan Roh Kudus untuk menemukan cara yang tepat untuk dapat bertahan dalam situasi seperti itu. Setiap hari aku dalam misa harian memohon pada Tuhan kesehatan rohani dan jasmani.

Setelah kaul pertama, aku bertugas di RSK Budi Rahayu, Blitar, lalu pindah ke RSK Vincentius A Paulo. Tahun Intensif di Hokeng, Flores Timur, bersama 21 suster dari 3 propinsi SSpS, lalu masuk Probasi. Setelah kaul kekal saya bertugas di RSK Vincentius, lalu RB Panti Sila, Seminari Tinggi Interdiosesan Giovani, Malang, RR Dharmaningsih, Claket.

Kesulitan dalam hidup komunitas pernah kualami saat bertugas di komunitas Gabriel, di Seminari Tinggi Interdiosesan, Malang. Ada suster terlalu memanjakan 2 orang yunior studen yang kost di sana. Hal ini sering menimbulkan konflik dan pertentangan di antara kami. Dalam komunitas ada ketegangan sampai yunior yang bersangkutan pindah ke Blitar dan keluar karena permohonan kaul kekalnya tidak diterima oleh Jendralat.

Ketika memulai tugas di R R Dharmaningsih, aku merasa berat. Aku tidak mempunyai pengalaman dalam mengelola rumah retret. Selain itu ada permasalahan sedikit dengan finansial. Dengan dana yang ada, bersama komunitas dan karyawan saya berusaha mengelolanya.

Sekalipun menghadapi begitu banyak masalah dan persoalan, kasih Tuhan senantiasa kualami. Ada saja sesama yang memberikan peneguhan, dan saat terdesak dan membutuhkan pertolongan, ada yang menolong. Akhirnya pada 27 Agustus 2013 aku diantar provinsial pindah ke Pangkalpinang.

image_pdfimage_print

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*