SP Rm Uung SSCC

Saya dilahirkan dalam sebuah keluarga sederhana pada 28 Juni 1979 di Cigugur Kuningan, dan diberi nama Uung Ungkara. Kemudian saya mendapatkan nama Paulus ketika saya dibaptis. Saya dibesarkan oleh didikan ayah yang keras bahkan cenderung otoriter dalam keluarga dan oleh kasih sayang ibu yang sabar dan bersahaja. Saya mempunyai 4 orang kakak perempuan dan 1 orang kakak laki-laki dan saat ini mereka semua telah berkeluarga.

Tangan Allah yang Sedang Merajut Kisah

Saya menjalani pendidikan Taman Kanak-kanak (TK), SD, SMP Katolik Yos Sudarso Cigugur, Kuningan yang berada di bawah Yayasan Salib Suci. Setelah menerima komuni pertama saya mulai aktif menjadi misdinar serta ikut dalam kegiatan gereja. Pada waktu itu dalam diri saya ada keinginan untuk menjadi seorang imam yang kelihatan sangat “Kerreenn” ketika sedang merayakan misa.

Tapi seiring berjalannya waktu, keinginan itu menjadi pudar dengan pembenaran bahwa menginjak masa remaja saya sedang dalam proses mencari jati diri. Selanjutnya saya meneruskan sekolah di SMUN 2 Kuningan dan lulus tahun 1998. Semasa sekolah di SMU saya mengalami hal berbeda karena di sekolah negeri mayoritas beragama islam dan kental dengan nuansa islam sedangkan yang non islam hanya beberapa siswa-siswi saja.

Pada saat itu saya mulai mengenal kepercayaan lain dan mendapatkan bahwa teman-teman saya yang beragama Islam sangat baik hidupnya dan sikapnya kepada saya. Kadangkala mereka juga bertanya kepada saya mengenai hal-hal yang berhubungan dengan iman Katolik, saya berusaha menjawabnya. Jika pertanyaan diajukan tapi saya belum bisa menjawabnya, maka saya akan berusaha untuk mencari jawabannya dan menyampaikan kepada teman saya itu. Suatu tantangan dalam mengimani Yesus.

Setelah lulus SMU saya tidak langsung melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi meski saya ingin melanjutkannya. Itu dikarenakan ayah saya yang sakit-sakitan, sedangkan keluarga mempunyai usaha ternak sapi serta pada saat itu kakak laki-laki saya juga sedang menjalani kuliah di Universitas Sanata Dharma. Dalam keadaan seperti itu tidak mungkin bagi saya untuk memaksakan keinginan langsung melanjutkan pendidikan. Saya berusaha untuk menerima keadaan dan menjadi seorang gembala sapi selama kurang lebih 5 tahun.

Pada saat itu saya berpikir mungkin inilah waktunya bagi saya untuk berbakti kepada orangtua dan keluarga. Suka dan duka sebagai seorang gembala sapi saya coba jalani dari hari ke hari dengan penuh kesadaran dan kesabaran meskipun kadangkala saya protes tentang keadaan; “Mengapa harus saya? Saya ini anak bungsu dalam keluarga. Mengapa saya yang harus berkorban dan bertanggung-jawab atas keadaan ini?”

Puji dan Syukur kepada Tuhan bahwa abang saya dapat lulus meskipun dengan proses yang tidak mudah. Dalam waktu 5 tahun itu juga 2 orang kakak perempuan saya yang asalnya belum menikah mendapatkan jodoh dan menikah dengan pasangan seiman. Hal ini sungguh merupakan berkat yang tidak terkira dari Allah bagi keluarga kami. Kasih dan rahmat Allah juga saya alami ketika saya pergi dari rumah pada tahun 2002 untuk mencari pengalaman hidup jauh dari orangtua. Perhatian dan kasih sayang dari para bibi dan paman serta para kakak perempuan saya merupakan bukti hadirnya Allah dalam perjalanan hidup saya baik itu di saat senang ataupun susah.

Menjadi SSCC

Pada waktu saya bekerja pada sebuah kontraktor bangunan di Bandung, saya tinggal sendiri menempati rumah bibi saya yang kosong. Saya selalu diingatkan oleh paman dan bibi agar bisa melihat karya Allah dalam setiap peristiwa yang saya alami. Saya pun mulai rajin berdoa kembali dan mengikuti perayaan misa pada hari Minggu setelah sekian lama saya lupa, terlebih ketika saya sedang memelihara sapi karena alasan sibuk dan capek.

Demikianlah, dengan perlahan-lahan ingatan untuk menjadi seorang imam dibukakan dan disegarkan kembali. Oleh sebab itu, saya sempat mengikuti retret panggilan yang diselenggarakan oleh SJ di Girisonta, tapi setelah itu saya disibukan lagi oleh pekerjaan. Hingga pada suatu hari saya bertemu dengan teman bernama Sandy, yang telah bergabung dalam pembinaan awal dalam kongregasi SSCC. Dia mengenalkan SSCC kepada saya dan mengundang saya untuk korespondensi dengan Br. Hendrik SSCC dan come and see ke Seminari Damian.

Perjumpaan dengan Sandy pada awalnya kelihatan seperti sebuah kebetulan karena pada saat itu saya lagi mencari-cari ke dalam kongregasi mana saya akan bergabung untuk menjadi seorang biarawan. Tapi dalam refleksi selanjutnya saya melihat bagaimana dalam perjumpaan yang kebetulan itu Allah merencanakan sesuatu dan membimbing saya untuk menjadi seorang SSCC.

Singkat cerita, saya mengikuti postulancy program di Bandung pada tahun 2004. Meskipun pada saat itu ayah belum setuju akan keputusan saya untuk menjadi seorang biarawan tapi saya berusaha meyakinkan beliau bahwa saya sudah dewasa dan punya hak untuk menjalani hidup yang menjadi pilihan saya. Dalam masa postulancy saya diperkenalkan bagaimana ritme hidup membiara dengan segala aturan yang ada. Saya juga belajar mengenal lebih jauh tentang SSCC;  charisma dan spiritualitasnya serta pengolahan kepribadian untuk semakin memurnikan movivasi yang ada.

Selanjutnya saya menjalani program Novitiate International di Filipina yang mana saya belajar untuk membangun dan mendalami keintiman relasi dengan Allah dalam doa, serta bagaimana saya dapat melihat dan menemukan Allah dalam segala, baik itu dalam pengalaman dan kejadian yang ada. Saya juga mendalami sejarah kongregasi dan spiritualitas Hati yang menjadi jiwa dari SSCC.

Pada saat ini panggilan saya diuji dengan meninggalnya ayah saya. Hal ini berat bagi saya karena saya adalah anak yang paling lama hidup bersama dengan orangtua sehingga saya mempunyai hubungan yang dekat dengan ayah. Sekali lagi saya merasakan bagaimana Rahmat dan Kasih setia Allah yang nyata hadir dalam dalam diri orang-orang di sekitar saya. Saya mendapatkan penghiburan juga peneguhan dari rekan novis SSCC, para Romo SSCC terutama Rm. Pankras SSCC sebagai novis master serta para suster SSCC, para sahabat, dan keluarga besar yakni para paman dan bibi yang begitu peduli memberikan perhatiannya.

Setelah diperkenankan mengucapkan kaul pertama pada 3 Juli tahun 2006, saya harus menjalani perutusan studi di Fakultas Teologi Wedabhakti, universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Aduuhhh…, ternyata harus belajar lagi itu sulit bagi saya yang sudah lama menjadi gembala sapi dan pekerja bangunan. Meskipun saya harus jatuh bangun dalam studi tapi akhirnya saya dapat menyelesaikannya juga.

Selanjutnya saya menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki Kristus Raja Seon, keuskupan Atambua – Timor untuk 1 tahun (Juli 2010 sd Juli 2011). Di sini saya mengalami geliat hidup menggereja dari umat Allah secara konkrit. Dengan medan yang sangat menantang karena harus naik turun bukit dan menyeberangi sungai dengan airnya yang meluap ketika akan memberikan katekese atau memimpin ibadat di lingkungan-lingkungan tidak menyurutkan semangat saya untuk belajar melayani. Di samping itu, saya juga bisa mendengarkan harapan-harapan, kegembiraan dan keprihatinan umat termasuk kaum muda yang kadangkala merasa galau dalam menjalani kehidupannya.

Pulang dari TOP, saya kembali ke Yogya dan menjalani pendidikan untuk mengambil program BA dalam bidang Teologi serta program imamat. Tugas perutusan studi di kampus bukan suatu yang mudah, tapi saya berusaha untuk memberikan yang terbaik yang dapat saya lakukan. Pada 3 Juli 2012 saya juga diperkenankan oleh pimpinan kongregasi untuk mengucapkan kaul kekal.

Pada 26 Januari 2013 saya menerima tahbisan diakonat di Yogyakarta. Usai menerima tahbisan, saya menjalani masa diakonat di Rumah Retret Civita Youth Camp, Jakarta selama kurang lebih 8 bulan. Setelah menjalani masa diakonat, akhirnya saya ditahbiskan menjadi imam pada 15 Agustus 2013 di Yogyakarta.

Demikianlah, semua hal yang dapat saya lewati ini merupakan rahmat Allah yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Hanya karena rahmat serta kasih setia-Nyalah saya bisa menjalani semuanya itu. Seluruh proses pembinaan dan tahap pendidikan yang saya jalani bertujuan untuk menyiapkan diri saya sebagai pelayan yang rendah hati, sebagai pembawa kabar gembira bagi sesama, bagi umat beriman bahwa; “Allah Maharahim mencintai dan mengampuni kita. Bahwa Allah Sang Cinta memberikan diri-Nya dalam Yesus Kristus Tuhan kita dan dalam rahmat Roh Kudus”.

Terimakasih bagi semua orang yang telah, dan masih akan terlibat dalam mendukung, memelihara hidup dan panggilan saya: Ayah (alm) dan ibu, kakak semuanya, paman dan bibi, sahabat, rekan sekongregasi (para Romo, bruder, frater dan suster SSCC), para formator, para guru serta dosen pendidik serta pembimbing bersama umat sekalian. Tuhan memberkati kita semua.

 

Paulus Uung Ungkara SSCC

image_pdfimage_print

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*