SP Rm Martin SSCC

Sejak usia masuk sekolah, saya bersekolah di Saint Joseph Chinese English School di Tanjung Balai Karimun. Langsung mulai kelas satu SD, karena saat itu belum ada yang disebut Taman Kanak-kanak. Missionaris SSCC berasal dari Belanda mengelola sekolah kecil ini dengan jumlah murid sekitar 100 orang.  Guru-guru awam (4 orang saja) beragama katolik kecuali satu. Mereka sungguh dedikatif. Dua Pater bertugas di paroki Santu Joseph untuk melayani umat (termasuk stasi Tanjung Batu dan Moro) dan juga mengajar di sekolah, yaitu katekismus dan bahasa Inggris.

Missionaris orang bule ini sangat disukai murid-murid, karena mereka ramah, baik hati, gembira mengajari anak-anak berbagai kegiatan dan permainan, membersihkan kebun pastoran dan menanam bunga (untuk gereja). Pada jam istirahat pertama, anak-anak katolik masuk ke gereja untuk doa pagi. Waktu itu saya belum katolik. Tapi saya merasa sangat terkesan akan hal tersebut.

Sebagai anak dan murid, saya tertarik pada sebuah pelajaran akan makna nilai luhur seorang manusia, yaitu berbuat baik. Segi ini saya lihat dalam diri imam-imam missionaris SSCC Holland dan guru-guru awam di sekolah katolik Saint Joseph Tanjung Balai. Saya tertarik untuk boleh menjadi seorang baik seperti pater Belanda yang datang dari negeri yang begitu jauh untuk bergaul dan berbagi kebaikan hidup. Tentu saja sebagai anak SD, saya belum mengerti makna dan konsekwensi seorang hidup tertakdis dan tertahbis imam.

Pastor dan guru-guru sekolah kecil sederhana ini membimbing dan mengantar saya melewati jenjang-jenjang menuju imamat: dari tahap belajar bahasa Indonesia di Sekolah Rakyat Budi Mulia Pangkalpinang sambil sore hari les bahasa Indonesia pada Bruder Angelus Manopo BM. Lalu belajar bahasa Latin pada Pastor Ludwinus van Dongen SSCC.

Satu tahun saya ikuti seminari kecil di Pangkalpinang, kemudian enam tahun di seminari santo Paulus Palembang. Pada waktunya saya menyatakan diri untuk bergabung dengan Kongregasi  SS.CC. Karena saya mau mendukung misi yang telah dirintis oleh imam-imam SS.CC. dari Holland. Dari lokal untuk lokal. Persekutuan, persaudaraan dan setia kawan dengan mereka (misionaris asing) yang telah membuka rakhmat Tuhan bagi panggilan hidup kristiani saya, menjadi nilai tinggi dan daya dorong bagi saya dalam menapaki hidup tertakdis dan hidup tertahbis saya.

Peziarahan panjang ini bukan tanpa kesalahan dan dosa, kegembiraan dan kekecewaan, kebodohan dan pergumulan, keberhasilan dan kegagalan, kesalah-pahaman dan kecurigaan, dukungan dan peremehan, entah dari dalam entah dari luar. Tapi saya hendak bersyukur bahwa rakhmat kasih dan belas kasih-Nya telah membuat saya boleh setia pada panggilan sebagai imam dan sebagai religius tertakdis.

Dengan segala kerendahan hati tapi tulus, perkenankan saya berbagi permenungan ini dengan siapa saja yang terbuka hati untuk bersyukur dan memuliakan Allah sumber kebaikan, kasih dan kesetiaan:

  1. Ancaman dunia maya dan media berteknologi tinggi masa kini bagi hidup tertakdis dan tertahbis, karena mereka bisa menggerogoti nilai-nilai sejati hidup tertakdis dan tertahbis. Bisa-bisa mereka membuat kita semakin individualistik, persaingan dan praduga yang destruktif.
  2. Semoga kaul-kaul yang diikrarkan itu menjadi gaya hidup sejati kaum tertakdis sepenuhnya tanpa kepalsuan atau samar-samar saja.
  3. Segi efisiensi dijunjung tinggi oleh dunia ekonomi dan kemakmuran, tapi tidak dengan sendirinya bernilai dari segi keselamatan. Tidak kalah pentingnya segi afeksiensi! Hati yang bersimpatik dan empatik seperti Hati Yesus itulah yang menyelamatkan sesama dan lingkungan.
  4. Kiranya kita perlu berwaspada dalam batin, agar tidak bercokol dalam hidup tertakdis kita kanker atheisme tersembunyi.
  5. Dalam dunia yang semakin cenderung ke fundamentalisme, extremis, terorisme yang memisahkan dan dengan kekerasan mau memusnakan sebangsanya, kita kaum hidup tertakdis dipanggil untuk ikut memajukan persaudaraan di mana kita berada dan melayani:
  6. Persaudaraan dalam komunitas dan kongregasi kita sendiri.
  7. Persaudaraan antar kita kaum hidup tertakdis dari berbagai tarekat.
  8. Persaudaraan antar kaum hidup tertakdis dan kaum tertahbis dalam keuskupan Pangkalpinang.
  9. Persaudaraan antar kita kaum tertakdis dengan sesama lingkungan dan masyarakat.
  10. Persaudaraan antar kita kaum tertakdis dengan penganut dari agama atau kepercayaan lain.
  11. Kiranya penting bahwa kaum tertakdis senantiasa membaharui diri dengan pertobatan tulus mendalam dan kembali kepada nilai-nilai sejati hidup tertakdis menurut kehendak Allah. ***

    Martin Irawan, SSCC

image_pdfimage_print

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*