SP Br Vinsen BM

Perkenalkan nama saya Bruder Vinsensius, BM. Saya akan mengisahkan sepenggal riwayat panggilan saya menjadi Bruder Budi Mulia. Cerita itu dimulai dari pengalaman hidup yang sangat sederhana.

Pada awalnya adalah ketertarikan biasa dari seorang anak seusianya. Saat itu saya masih duduk di kelas 5 SDN Kwayuhan. Kekaguman itu muncul dari pengalaman masa kanak-kanak yang tersentuh akan kunjungan seorang pastur di rumah reot kami, Desa Diro, Sendang Mulyo, Minggir. Beliau berkunjung dengan memakai jubah putih. Jubah putih yang dikenakan oleh seorang pastur itu membuatku kagum. Dalam benakku: “Apakah aku nantinya bisa memakai jubah seperti itu?”

Pastur itu masuk ke rumah kami yang pintunya pendek. Pastur tersebut pada waktu masuk kepalanya membentur kayu atas dari pintu. Maklum, orang Belanda yang posturnya tinggi sementara pintu kami pendek. Namun pastur tersebut saya lihat tidak menggubris dengan peristiwa tersebut dan tidak menghiraukan sakitnya. Ia tersenyum pada seluruh anggota keluarga kami.  Setelah beberapa saat menjumpai kami dan berbincang-bincang dengan keluarga kami, beliau bertanya kepada saya: “Apa cita-citamu, nak ?”

Saat itu saya tidak menjawab. Diam dan tertunduk. Setelah sekian lama pertanyaan tersebut saya jumpai lagi dengan pastur tersebut saat perjumpaan di misa lingkungan (kelompok). Beliau pun bertanya lagi kepada saya: “Apa cita-citamu, nak ?” Saat itupun aku terdiam. Tetapi dari peristiwa itu saya selalu teringat dan berpikir apakah saya terpanggil dalam jalan Tuhan untuk menjadi seorang biarawan. Hari demi hari, minggu demi minggu, dan bulan berganti bulan, serta tahun ke tahun berikutnya hal yang sederhana itu bergema selalu.

Setelah lulus dari SD Kwayuhan (tahun 1987), saya meneruskan ke SMP Budi Mulia Padon yang dikelola oleh Bruder-bruder Budi Mulia. Di sekolah inilah saya berkenalan dengan bruder-bruder Budi Mulia. Saat itu saya belum ada ketertarikan untuk menjadi seorang bruder. Pada saat kelas 3 SMP Budi Mulia, saya mencoba untuk mendaftarkan ke Seminari Mertoyudan. Namun keberuntungan tidak berpihak pada saya. Aku tidak lolos karena tidak melengkapi persyaratan administrasi seperti izin dan kesanggupan orangtua dalam finansial (pembiayaan).

Setelah lulus dari SMP Budi Mulia Padon pada tahun 1990, saya meneruskan di SMA Sajaya Nanggulan, Kulon Progo. Pada saat di SMA untuk menjaga kobaran panggilan, saya ikut dalam aksi-aksi “Paguyuban Timbalan Dalem” yang diselengarakan oleh Paroki Petrus dan Paulus Klepu bekerja sama dengan Bruder-bruder Budi Mulia dan Suster HK Godean. Pertemuan Paguyuban Timbalan Dalem dilaksanakan setiap bulan. Saya terus setia mengikuti pertemuan-pertemuan tersebut sampai lulus SMA (tahun 1993). Saya meneruskan studi di D II PGSD IKIP Sanata Dharma saat itu yang dalam proses menjadi Universitas Sanata Dharma sekarang, Saya lulus dari Sanata Dharma tahun 1996.

Nasib saya mujur. Lulus dari Universitas Sanata Dharma, saya langsung mendapatkan tawaran untuk menjadi guru di SD Xaverius II Palembang, Sumatera Selatan. Selama dua tahun saya praktis tidak bersinggungan dalam kegiatan ataupun bayangan untuk meneruskan panggilan semula. Tetapi hati saya mulai bergetar lagi untuk menanggapi cita-cita sebelumnya, saat minggu panggilan. Mulai saat itu saya berusaha untuk menggapai lagi impian tersebut.

Saya kemudian berusaha setiap tahun untuk pulang ke Yogyakarta, terutama untuk meminta izin kepada bapak – simbok untuk masuk biara, namun mereka merasa keberatan. Saya berpikir kalau saya masih di Palembang pasti akan jauh dari mewujudkan cita-cita semula.

Pada tahun 2000 saya memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Kembali nasib saya berutung. Saya diterima di SD Sang Timur Cakung, Jakarta Timur yang dikelola oleh Suster Sang Timur (PIJ) untuk menjadi tenaga guru. Saya bekerja di SD Sang Timur selama 2 tahun. Dengan bekerja di Jakarta saya bisa pulang sekurang kurangnya 2 kali setahun, sehingga saya bisa bertemu dengan bapak – simbok untuk meminta izin masuk ke biara.

Setelah bekerja selama 6 tahun saya mengatakan cukup, dan saatnya saya masuk ke biara. Saya secara lisan meminta izin pada Suster untuk keluar dari pekerjaan dan meneruskan masuk menjadi Bruder Budi Mulia. Itu terjadi menjelang liburan tahun ajaran baru 2002/2003. Pada 17 Juni saya pulang ke rumah dan meminta izin kepada bapak – simbok. Atas bantuan Om Suratnata saya akhirnya mendapatkan izin dari bapak dan simbok meskipun dalam hati mereka masih keberatan.

Tanggal 23 Juni saya datang ke Komunitas Klepu untuk mendaftarkan menjadi Bruder Budi Mulia. Saya diajurkan Br. Damas Supatmo, BM untuk menghadiri acara penerimaan pakaian biara (Jubah) dan pengucapan propesi pertama di Lawang Jawa Timur, untuk menjalani tes dan bertemu Bruder Provinsial, yang pada saat itu Br. Nico, BM. Saya dijanjikan untuk bertemu di Komunitas Gunung Sahari pada tanggal 4 Juli 2002. Di Komunitas Gunung Sahari adalah tempat dimana saya mendapatkan surat pengumuman saya diterima atau ditolak. Puji Tuhan ternyata saya diterima. Keesokan harinya saya datang ke tempat dimana saya bekerja dulu (SD Sang Timur) untuk menyatakan secara resmi berhenti dari pekerjaan saya. Pada 6 Juli 2002 saya berangkat ke Pangkalpinang, Bangka Belitung untuk masuk ke masa Postulan.

Mungkin ada dari para pembaca bertanya mengapa saya memilih ke Budi Mulia.  Ini adalah tabungan masa lalu pada saat indah bersekolah di Budi Mulia dimana saya sangat diperhatikan oleh para Bruder yang bertugas di sekolah dan bapak ibu guru SMP Budi Mulia. Inilah sepenggal cerita yang jauh dari sempurna, dan sekarang cerita tersebut masih terus saya perjuangkan terus-menerus untuk mewujudkan impian sampai akhir menjadi Bruder Budi Mulia. Motto hidup saya adalah “Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati.” (Yakobus 2: 17)

Terimakasih dan mohon doanya supaya saya tetap setia sampai akhir.

 

Br. Vincensius, BM

image_pdfimage_print

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*