Meneladani Orang Kudus: Santo Kasimirus

Pengantar
Umat katolik memiliki begitu banyak saksi iman. Mereka “bagaikan awan yang mengelilingi kita.” (Ibr 12: 1). Saksi iman inilah yang dikenal dengan orang kudus. Selain sebagai pelindung, mereka juga dijadikan teladan hidup dan iman bagi kita. Tidak semua orang kudus itu berasal dari kalangan berjubah atau tertahbis. Ada juga orang kudus yang berasal dari kalangan awam, seperti orang kudus kita kali ini: Santo Kasimirus, yang peringatannya jatuh pada tanggal 4 Maret.

Riwayat Hidup
Putera kedua Kasimir III, Raja Polandia dan maharaja Lithuania ini, lahir pada tahun 1461. Keluarganya tergolong saleh dan taat agama. Ibunya, Elisabeth dari Austria, mendidik dia menurut tata cara hidup kerajaan dan hidup kristiani yang berlaku pada masa itu. Setelah menanjak remaja, pendidikannya diserahkan kepada Yohanes Longinus. Kasimirus berkembang dewasa menjadi seorang putera raja yang berhati mulia, murah hati, sopan dan ramah dalam pergaulan dengan sesamanya. Ia disenangi banyak orang terutama teman-temannya sebaya. Kecuali itu, pendidikan itu berhasil menanamkan dalam dirinya sikap yang tepat dan terpuji terhadap kesemarakan dan kemewahan duniawi. Bahwasanya semua kemewahan dan hormat duniawi itu bersifat sia-sia dan bisa saja menjerumuskan manusia ke dalam keserakahan dan ingat diri.

Sikap itu terbukti kebenarannya tatkala ia terlibat dalam suatu perkara politik yang terjadi di kerajaan Hongaria. Banyak bangsawan Hongaria tidak suka akan Matias, rajanya. Mereka datang kepada Kasimirus dan memohon kesediaannya untuk menjadi raja mereka. Kasimirus mengabulkan permohonan itu dan segera berangkat ke Hongaria. Mendengar hal itu Raja Matias segera menyiapkan sepasukan prajurit untuk berperang melawan Kerajaan Polandia. Tetapi perang tidak terjadi karena campur tangan Paus.

Dengan malu, pangeran Kasimirus pulang ke Polandia. Peristiwa itu menyadarkan dirinya akan kesia-siaan hormat duniawi. Maka mulai saat itu ia meninggalkan cara hidupnya yang mewah dan kehormatan duniawi, lalu memusatkan perhatiannya pada doa, puasa dan tapa. Banyak waktunya dihabiskan untuk berdoa. Pagi-pagi sekali ia sudah berdiri di depan pintu gereja untuk mengikuti perayaan misa kudus dan mendengarkan kotbah. Ia juga mulai lebih banyak memperhatikan kepentingan kaum fakir miskin dengan membagi-bagikan harta kekayaannya. Cinta kasih dan hormatnya kepada Bunda Maria sangatlah besar. “Omni die hic Mariae” (Mengasih Maria, kini dan selalu) adalah semboyan hidupnya.
Semua usahanya untuk memusatkan diri pada doa, tapa dan puasa membuat dia menjadi seorang beriman yang saleh. Ia menjadi orang kesayangan warganya, terutama kaum miskin di kota itu. Ia meninggal dunia pada tanggal 4 Maret 1484 karena serangan penyakit sampar. Seratus duapuluh tahun kemudian, kuburnya di Katedral Wein dibuka kembali dan relikuinya dipindahkan ke sebuah kapela. Tubuhnya masih tampak utuh dan menyebarkan bau harum. Tulisan doanya: “Mengasihi Maria, kini dan selalu” masih terletak rapi di kepalanya. Hal ini menunjukkan bahwa devosinya kepada Maria merupakan suatu persembahan yang berkenan di hati Maria.

Apa yang Dapat Dipelajari?
Dari riwayat hidup orang kudus ini, kita tidak hanya mendapatkan teladan hidup dari Santo Kasimirus saja, melainkan juga dari orangtuanya, secara khusus ibunya. Dikatakan bahwa ibunya membesarkan dan mendidik Kasimirus bukan hanya menurut tata cara kerajaan saja, melainkan juga tata cara hidup kristiani. Hal ini membuat Kasimirus tumbuh menjadi orang yang berhati mulia, murah hati, sopan dan ramah dalam pergaulan dengan sesamanya.

Tentulah teladan orangtua Kasimirus ini dapat menjadi cermin bagi para orangtua dari keluarga katolik dewasa ini agar mendidik dan membesarkan anak-anaknya sesuai tata cara hidup kristiani. Orangtua jangan membiarkan anaknya dididik oleh baby sitter, atau teknologi zaman. Orangtua harus hadir dalam kehidupan anak, sejak usia dini.
Dari pribadi Kasimirus sendiri kita dapat belajar hidup sederhana, tidak serakah akan pangkat, jabatan, kuasa dan harta kekayaan. Dikisahkan bahwa Kasimirus meninggalkan cara hidup mewah dan kehormatan duniawi, lalu memusatkan perhatiannya pada doa, puasa dan tapa. Sekalipun ia tidak mengikrarkan janji kemiskinan (kesederhanaan), Kasimirus menjalankan gaya hidup sederhana. Ia mau berbagi apa yang dimilikinya untuk kepentingan orang lain yang membutuhkan. Dengan kata lain, Kasimirus hidup demi orang lain.

Teladan hidup Kasimirus ini dapat menjadi cermin bagi kita dewasa ini yang mudah jatuh ke dalam godaan keserakahan akan kuasa, jabatan, popularitas, harta dan kekayaan. Terlebih lagi para imam yang secara khusus mengucapkan janji (atau kaul) kemiskinan. Kasimirus yang tidak mengikrarkan janji saja mau menjalankan hidup sederhana, apalagi imam yang terikat dengan janji. Kita semua diajak untuk berani dan rela member diri untuk kebahagiaan sesama.

image_pdfimage_print

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*