Santa Yuliana Kornillon

Pengantar
Hari Kamis setelah hari Minggu Hari Raya Tritunggal Mahakudus, biasanya Gereja Katolik merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, atau yang dulu dikenal dengan Pesta Corpus Christi. Hari Raya Trinitas sendiri merupakan hari Minggu pertama setelah Hari Raya Pentakosta. Masuknya hari raya Corpus Christi ke dalam penanggalan liturgi tak lepas dari peran orang kudus kita kali ini, yaitu Yuliana Kornillon. Peringatan akan orang kudus ini jatuh pada tanggal 5 April.

Riwayat Hidup
Yuliana lahir di Liege, Belgia, pada tahun 1192. Pada umur 5 tahun, ia sudah menjadi anak yatim piatu, sehingga ia dan adiknya dititipkan di sebuah biara di Mount Cornillon. Di sini mereka diasuh oleh Sr. Sapiensia. Tugas mereka adalah belajar, membersihkan rumah, memelihara bunga-bunga dan menjaga sapi. Kedua kakak beradik ini selalu ikut serta dalam doa, perayaan ekaristi dan upacara-upacara lainnya. Yuliana menaruh hormat yang tinggi kepada Sakramen Mahakudus yang diterimanya setiap kali mengikuti perayaan ekaristi. Ia juga suka sekali membaca buku-buku karya Santo Agustinus, Santo Bernardus dan lain-lainnya di perpustakaan.

Pada usia 16 tahun, Yuliana mengalami suatu penglihatan ajaib. Ia melihat bulan purnama yang aneh sekali; pinggirannya tercabik. Ia ragu-ragu memastikan arti penglihatan itu, apakah itu suatu godaan dari roh jahat atau pewahyuan Tuhan. Ia berdoa memohon agar Yesus menerangkan kepadanya arti penglihatan itu. Dua tahun kemudian Yesus menampakkan diri kepadanya dan menerangkan arti penglihatan itu: bulan itu adalah lingkaran tahun liturgis Gereja dengan berbagai hari raya. Sedangkan cabikan pada pinggir bulan purnama itu menandakan bahwa lingkaran tahun liturgi Gereja belum sempurna oleh karena tidak adanya hari raya khusus untuk menghormati sakramen mahakudus.
Yuliana diminta untuk menyampaikan kepada pemimpin Gereja agar segera menetapkan suatu hari khusus untuk menghormati Sakramen Mahakudus. Dengan takut-takut, Yuliana berkata, “Ah Tuhan, jangan aku yang Kautugaskan untuk menyampaikan hal itu. Serahkan saja tugas itu kepada seorang imam yang saleh dan terpelajar.” Tetapi Yesus menjawab, “Kamulah orang yang Kuanggap layak untuk tugas luhur ini. Justru orang lemah namun berbakti kepada-Ku layak untuk menjalankan tugas ini.”

Hari dan tahun berjalan terus hingga Yuliana menjadi suster di biara St. Agustinus Mount Carnillon. Karena kedudukannya masih rendah, ia tidak berani membuka rahasia penampakan itu dan pesan Yesus. Barulah ketika ia terpilih menjadi prior pada tahun 1225, ia mulai membuka rahasia penampakan itu kepada Eva, seorang petapa wanita yang saleh dan pintar. Eva selanjutnya berbicara dengan para imam antara lain dengan Hugo, Provinsial Ordo Dominikan, Uskup J. Pantelleon, dan para ahli di bidang liturgi dan teologi. Sementara itu, Yuliana terus berdoa agar semua orang dapat menerima baik pesan Tuhan yang disampaikan kepadanya. Pada dasarnya pemimpin Gereja setempat dan para ahli itu tidak menolak memasukkan Pesta Sakramen Mahakudus dalam liturgi Gereja. Hasil pertama diperolehnya pada tahun 1246, yaitu tatkala hari raya Corpus Christi itu disetujui dan diresmikan oleh Uskup J. Pantelleon.

Namun sejak itulah Yuliana mengalami banyak penderitaan. Banyak orang termasuk imam-imam mencap Yuliana sebagai orang yang kerasukan setan. Dan banyak dakwaan dan kritik lain terhadapnya yang menuduh dia memanfaatkan kedudukannya sebagai pemimpin biara untuk ambisi pribadi mempromosikan penemuannya tentang hari raya Sakramen Mahakudus itu. Ia dipecat dari kedudukannya sebagai pemimpin biara dan diusir dari biara itu. Ia lalu pergi bergabung dengan Eva di pertapaannnya. Akhirnya setelah mengalami begitu banyak penderitaan fisik dan batin, Yuliana meninggal pada 5 April 1258.

Apa yang Dapat Dipelajari?
Kisah hidup Santa Yuliana Karnillon dapat menarik perhatian bukan saja untuk kaum religius, melainkan juga kaum awam. Kita diajak untuk menaruh sikap hormat kepada tubuh dan darah Kristus. Sikap ini dapat diwujudkan dalam 2 tindakan, yaitu menghadiri ekaristi dan devosi kepada Sakramen Mahakudus. Santa Yuliana meminta kita supaya mau meluangkan waktu untuk mengikuti ekaristi dan devosi kepada Sakramen Mahakudus.

Teladan hidup Santa Yuliana lainnya adalah sikapnya yang rendah hati. Ia merasa tak layak menerima pesan Tuhan. Kerendahan hatinya ini terlihat jelas ketika ia menghadapi celaan, kecaman bahkan fitnah keji dari banyak orang, termasuk para imam. Mungkin para imam, yang merasa diri hebat dengan ilmu-ilmu teologinya, merasa dilecehkan dengan penglihatan Yuliana. Sekalipun diserang, Yuliana tabah menghadapi semuanya. Bahkan ia memenuhi tuntutan mundur dari jabatannya. Sekalipun diusir, Yuliana tetap tabah. Namun akhirnya semua orang mengakuinya.
Pengalaman kita dewasa ini selalu menunjukkan perlawanan ketika kita diserang. Bahkan ketika jabatan diusik, banyak orang berusaha mempertahankannya. Santa Yuliana mengajak kita untuk bersikap rendah hati. Sikap ini memampukan kita tabah menghadapi segala cobaan.***

image_pdfimage_print

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*