Santa Koleta

Pengantar
Kitab Hukum Gereja menganjurkan agar orangtua memberi nama anaknya dengan nama yang tak asing dari citarasa kristiani (Kan. 855). Nama inilah yang biasanya menjadi nama baptis. Nama yang bercitarasa kristiani dapat diperoleh dari nama-nama yang ada dalam Kitab Suci atau nama orang kudus. Nama itu diberikan mungkin peringatan orang kudus itu bertepatan dengan saat kelahiran atau hari baptisannya. Bisa juga karena orangtuanya mengidolakan orang kudus tertentu, seperti nama orang kudus kita kali ini: Santa Koleta, yang peringatannya jatuh pada tanggal 7 Februari.

Riwayat Hidup
Nama aslinya adalah Nikoleta. Namun ia lebih populer dengan nama Koleta. Putri pasangan Robertus dan Margaretha ini lahir pada tanggal 13 Januari 1381 dalam sebuah keluarga Katolik yang saleh. Kedua orangtuanya adalah orang yang taat pada agama. Robertus berprofesi sebagai tukang kayu, sementara Margaretha sebagai ibu rumah tangga.
Koleta boleh dikatakan merupakan karunia istimewa dari Tuhan kepada kedua orangtuanya yang tidak putus-putusnya berdoa memohon kelahiran seorang anak. Puteri kesayangan ini diberi nama Nikoleta, sebagai penghormatan kepada Santo Nikolaus dari Tolentino, perantara doa mereka. Dia dibesarkan dan dididik dalam adat kebiasaan Katolik yang berlaku pada masa itu.

Ketika menginjak usia muda sepeninggal orangtuanya, Koleta hendak dinikahkan dengan seorang pemuda baik-baik atas anjuran pastor parokinya. Tetapi dengan tegas Koleta menolak usul itu. Ia telah memilih Kristus sebagai mempelainya. Untuk mempertegas hubungan yang akrab dengan Kristus, Koleta masuk menjadi anggota Ordo ketiga Santo Fransiskus.

Empat tahun kemudian, Koleta mengalami suatu penglihatan ajaib. Ia diminta oleh Santo Fransiskus untuk memulihkan kembali peraturan-peraturan dalam biara Suster-suster Klaris. Atas izin Paus di Roma, Koleta mulai menjalankan tugas berat ini. Meskipun banyak rintangan yang dihadapinya, namun dia berhasil menata kembali corak hidup membiara dengan disiplin yang baik di 17 buah biara, terutama di Belgia dan Perancis. Kiranya kesalehan hidupnya dan kebijaksanaannya menjadi landasan keberhasilannya.

Koleta sangat menyayangi anak-anak kecil dan binatang. Di kalangan pemerintah, ia memainkan peranan yang sangat besar karena ia berusaha menghentikan pertikaian antara raja-raja dan percekcokan di dalam keluarga-keluarga bangsawan. Koleta meninggal dunia di Gent, Belgia pada tanggal 6 Maret 1447.

Apa yang Dapat Dipelajari?
Ada banyak hal yang menarik dari riwayat hidup Santa Koleta ini untuk dijadikan teladan hidup. Bagi para orangtua, riwayat hidup yang singkat ini memberikan:

  1. Bagaimana proses memilih nama baptis bagi anak. Orangtua Santa Koleta memberi nama pada anaknya berdasarkan nama orang kudus yang mereka idolakan. Di sini terlihat jelas bahwa mereka tidak sembarangan dalam memberi nama. Karena dari itu, hendaknya orangtua juga mempersiapkan nama ketika mau memberi nama pada anaknya.
  2. Dikatakan bahwa orangtua Santa Koleta membesarkan dan mendidik anak mereka sesuai adat kebiasaan katolik.

Kebiasaan mendidik anak sesuai nilai-nilai kristiani dewasa ini sepertinya sudah luntur. Paus Fransiskus, dalam ensikliknya Evangelii Gaudium, mengungkapkan fakta adanya “kebuntuan pada cara umat katolik mewariskan iman katolik kepada kaum muda.” (EG no. 70). Karena itu, hendaknya teladan orangtua Santa Koleta menjadi spirit keluarga-keluarga katolik saat ini, supaya orangtua membesarkan dan mendidik anaknya dalam nilai-nilai katolisitas. Hal ini sesuai dengan tujuan perkawinan (Kan. 1055 § 1) dan telah diamanatkan dalam hukum Gereja (Kan. 226 § 2).

Teladan hidup Santa Koleta sendiri dapat kita lihat dari beberapa hal. Pertama, perhatiannya kepada anak-anak. Tuhan Yesus sendiri sudah menunjukkan perhatian-Nya kepada anak-anak, justru ketika para murid mencoba mengabaikan mereka (bdk. Mrk 10: 13 – 16). Anak merupakan masa depan Gereja. Karena itu, segala komponen Gereja, mulai orangtua dan tenaga pastoral hendaknya memiliki hati untuk memberi perhatian kepada anak-anak. Jangan hanya sibuk dengan kepentingan pribadi atau lainnya dan mengabaikan pestoral anak-anak.

Kedua, sebagai pembaharu. Santa Koleta terpanggil untuk membaharui aturan hidup Biara Klaris. Mungkin ada aturan yang sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan jaman atau juga hidup para anggota Biara Klaris yang tidak sesuai aturan. Yang jelas, Santa Koleta tampil membawa pembaharuan. Di tengah kehidupan kita mungkin ada ketentuan yang tidak sesuai dengan kebutuhan jaman atau hidup kita tak sesuai dengan aturan yang ada. Misalnya, politik oligarki atau korupsi dalam Gereja, sikap tak peduli, atau semangat egoisme. Kita terpanggil untuk membenahi semua itu agar menjadi lebih baik.

Ketiga, sebagai pendamai. Dikisahkan bahwa Santa Koleta hadir sebagai pendamai ketika ada pertikaian antara raja-raja dan percekcokan di dalam keluarga-keluarga bangsawan. Di sini Santa Koleta bukan cuma memisahkan yang berselisihan tetapi mendamaikan. Kalau sekedar memisahkan orang yang berselisihan tetap hidup dalam permusuhan, sedangkan mendamaikan orang yang berselisihan kembali hidup rukun.

Paus Fransiskus, dalam ensikliknya Evangelii Gaudium, mengungkapkan keprihatinannya tentang adanya “komunitas kristiani, dan bahkan kaum religius, dapat membenarkan berbagai bentuk permusuhan, perpecahan, fitnah, pencemaran nama baik, dendam, iri hati dan keinginan untuk memaksakan ide-idenya sendiri dengan cara apa pun… Siapa yang akan kita beri warta Injil jika ini adalah cara kita bertindak?” (EG. No 100). Karena itulah, hendaknya teladan hidup Santa Koleta ini merasuk ke dalam hati sanubari kita sehingga kita dapat membawa damai di tengah kehidupan kita. “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” (Mat 5: 9).***

image_pdfimage_print

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*