Rosa Virginia

Pengantar
Kanon 855 berbunyi, “Orangtua, wali-baptis dan pastor-paroki hendaknya menjaga agar jangan memberikan nama yang asing dari nafas kristiani.” Di sini seakan mau ditegaskan bahwa pemberian nama bukanlah sekedar gagah-gagahan. Nama yang melekat pada diri seseorang biasanya memiliki makna atau pesan. Kanon di atas kemudian dipahami nama baptis anak itu diambil dari nama orang kudus, nama tokoh-tokoh Kitab Suci atau memiliki makna yang popular dalam tradisi kristiani. Hal ini dapat dilihat pada orang kudus kita kali ini Santa Rosa Virginia Pelletier, yang peringatannya jatuh pada tanggal 24 April.

Riwayat Hidup
Rosa Virginia Pelletier lahir pada 31 Juli 1796 di sebuah daerah pengungsian di pulau Noimoutier. Ayahnya, Julian Pelletier, adalah seorang dokter. Ibunya bernama Anne Moirain. Rosa dididik secara katolik dalam lingkungan yang sangat baik. Semenjak kecil ia dilatih untuk bekerja keras dan berkelakuan baik terhadap orang lain. Namanya Rosa berarti Bunga Mawar, menunjukkan harapan orangtuanya akan perkembangan diri Rosa menjadi seorang putri yang harum namanya dan berguna bagi banyak orang lain. Sedangkan Virginia yang berarti Perawan, menunjukkan harapan orangtuanya untuk suatu corak hidup yang mengikuti teladan Bunda Perawan Maria.

Setelah hidup lama di Noimoutier, dokter Pelletier meninggal dunia. Ibu Anne mengalami goncangan batin yang hebat karena kematian suaminya. Semenjak itu ia sendirilah yang harus bersusah payah membesarkan Rosa kecil. Kemudian Rosa bersama ibunya pindah ke Soullans. Di sini Rosa dimasukkan ke dalam asrama untuk melanjutkan pendidikannya. Di asrama Rosa berusaha selalu menampilkan diri sebagai gadis yang menyenangkan banyak orang. Sikap dan tingkah lakunya berbeda sekali dengan teman-temannya. Ia seorang gadis yang tenang, alim, tidak suka memberontak dan rajin membantu orang lain. Dengan senang hati ia membantu suster pemimpin asrama untuk menertibkan rekan-rekannya.

Pendidikannya di asrama itu sungguh menyiapkan dia untuk menjadi seorang suster yang saleh di kemudian hari.
Sementara berada di asrama, peristiwa duka lain menimpa dirinya. Constan, saudaranya, meninggal dunia. Enam bulan setelah kematian saudaranya, ibunya tercinta juga meninggal dunia. Semua peristiwa yang datang beruntun ini meninggalkan luka batin yang cukup dalam di hati Rosa. Ia terus saja memikirkan ayah, ibu dan saudaranya. Tetapi inilah saat yang tepat bagi Tuhan untuk bertindak atas diri Rosa. Pada suatu hari, dia bersama teman-temannya berkunjung ke biara suster-suster Kongregasi Santa Maria Pengasih. Di sini mereka merayakan misa kudus bersama suster-suster itu. Peristiwa ini menumbuhkan dalam hatinya untuk menjalani hidup sebagai seorang suster. Pada 20 Oktober 1814, Rosa pergi ke Tours untuk menjalani hidup membiara.

Setelah menjalani masa postulan selama 11 bulan, Rosa memasuki masa novisiat. Ia giat mempelajari Kitab Suci dan rajin membaca riwayat hidup orang-orang kudus. Pada 9 September 1817 ia mengucapkan kaulnya yang pertama: kemiskinan, ketaatan, kemurnian dan pengabdian untuk keselamatan kaum wanita.

Sebagai seorang suster muda, Rosa melaksanakan tugas-tugas yang dipercayakan kepadanya dengan penuh semangat. Ia ditugaskan di bidang pendidikan anak-anak asuhan yang ada dalam biara itu. Dan berusaha agar mereka bisa kembali ke masyarakat sebagai orang-orang yang berguna. Karena kesalehan dan kepribadiannya yang menarik, dia diangkat sebagai pemimpin biara pada tahun 1825. Dalam tugas baru itu, ia berusaha dengan bantuan Tuhan untuk mengembangkan biaranya.

Akhirnya pada 24 April 1868, suster Rosa Virginia meninggal dunia karena penyakit yang dideritanya selama masa tuanya. Paus Pius XII (1939 – 1958) memberi gelar “Kudus” kepadanya pada 2 Mei 1940.

Apa yang Dapat Dipelajari?
Pertama-tama yang menarik dari riwayat orang kudus ini adalah bahwa hidupnya sesuai dengan namanya: Rosa Virginia. Ia tampil seperti bunga mawar (Rosa) yang memberi keharuman bagi orang lain. Keharuman itu terlihat dari perilaku, tutur kata, sikap dan perbuatannya, sehingga banyak orang suka padanya. Ia juga menjaga kesucian (Virginia) dirinya. Bahkan kesuciannya dipersembahkan kepada Tuhan dengan menempuh corak hidup membiara. Di sini Santa Rosa mau mengajak kita untuk menghidupi makna dan pesan yang terkandung dalam nama baptis kita.
Keberhasilan Rosa menerapkan namanya dalam kehidupan tak bisa dilepaskan dari peran orangtuanya. Mereka mendidik Rosa sejak kecil secara katolik dengan menciptakan lingkungan (rumah tangga) yang baik. Ini bisa menjadi pelajaran bagi para orangtua dewasa ini untuk mau meluangkan waktu bagi pendidikan anak-anaknya. Pendidikan anak bukan semata tugas sekolah. Tugas tersebut pertama-tama menjadi tanggungjawab orangtua. Jadi, jika orangtua ingin agar anaknya kemudian tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik, maka mulailah mendidik mereka sejak dini.
Teladan Rosa yang mau menjaga keperawanan, bahkan mempersembahkannya kepada Tuhan, dapat menjadi pelajaran berharga bagi anak-anak muda dewasa kini. Bukan rahasia lagi bila anak-anak remaja masa kini sudah jatuh ke dalam pergaulan bebas sehingga tidak mau lagi menghormati kesucian dirinya. Dalam masa pacaran mereka sudah melakukan hubungan, yang sebenarnya hanya dikhususkan bagi orang yang berstatuskan suami-isteri. Karena itu, semoga teladan Santa Rosa ini menginspirasi kaum muda untuk menjaga dan menghormati kesucian dirinya. Bila perlu ada di antara mereka yang mau mempersembahkannya kepada Tuhan.

image_pdfimage_print

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*