Santo Buonfiglio Monaldi, Aleksius Falconieri, DKK

Pengantar
Harta kekayaan bukanlah segalanya. Tuhan Yesus sendiri, dalam kotbah di bukit, pernah berkata, “Berbahagialah orang miskin di hadapan Allah…” (Mat 5: 3). Karena itu, pada kesempatan lain Tuhan Yesus berkata, “Jikalau kamu hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin…” (Mat 19: 21). Kata-kata Yesus ini seakan menjadi inspirasi orang kudus kita kali ini, yaitu Santo Buonfiglio, Aleksius Falconieri dkk, yang peringatannya jatuh pada tanggal 17 Februari.

Riwayat Hidup
Tujuh anak muda dari keluarga kaya di kota niaga Firenze, Italia, berkumpul dan membentuk sebuah perkumpulan dagang, yang dikenal dengan nama Persaudaraan Laudesi. Ketujuh pemuda itu adalah Buonfiglio Monaldi, Yohanes Buonagiunta Monetti, Gerardino Sostegno, Bartolomeus degli Amidei, Hugo dei Lippi-Uguccioni, Benediktus dell’Antella dan Aleksius Falconieri. Perkumpulan ini bertujuan bagaimana memajukan bisnis keluarga mereka. Gaya hidup mewah sudah menjadi kehidupan sehari-hari.

Akan tetapi, selain sibuk mengurus bisnis, mereka punya perhatian terhadap devosi dan ekaristi. Pada pesta Maria diangkat ke Surga (15 Agustus 1233), tujuh sekawan ini bersama-sama berdoa dan mengikuti perayaan Ekaristi. Pada waktu itu mereka bertujuh mengalami suatu peristiwa ajaib. Bunda Maria menampakkan diri kepada mereka dan meminta mereka untuk memulai suatu cara hidup baru yang lebih khusus bagi pengabdian kepadanya. Secara khusus Bunda Maria meminta mereka untuk mendirikan Tarekat Hamba-hamba SP Maria. Mereka diberikan skapulir hitam untuk mengingatkan mereka akan penderitaan.

Peristiwa ini segera mereka tanggapi dengan meninggalkan segala harta miliknya dan membagikannya kepada orang-orang miskin. Mereka menggantikan pakaian mewah yang biasa mereka kenakan dengan pakaian yang serba sederhana. Untuk mewujudkan permintaan Bunda Maria, mereka mendirikan Ordo Servorum Mariae (OSM), yang mengikuti aturan hidup Ordo St. Agustinus. Buonfiglio adalah prior jenderal Ordo Servites pertama (1249 – 1256). Penggantinya adalah Yohanes Buonagiunta Monetti.

Buonfiglio bersama kawan-kawannya menolak jabatan-jabatan yang tinggi dalam gereja. Mereka memilih hidup dalam kesederhanaan dan mengundurkan diri dari kesibukan dagang di kota yang ramai kepada kesunyian di pegunungan. Ordo Servit yang mereka dirikan mengutamakan doa bersama dan penghormatan kepada Maria. Para anggotanya berkarya sebagai pengkhotbah, pekerja sosial dan seniman. Mereka mengutamakan suasana tenang dan berdevosi penuh kepada Sengsara Kristus dan Tujuh Dukacita Bunda Maria.

Dari tujuh sekawan itu, Aleksius menolak ditabhiskan menjadi imam karena lebih suka mengerjakan tugas-tugas yang hina dan lebih mengutamakan karya penyebaran devosi kepada Bunda Maria. Ia memilih menjadi bruder. Bahkan Aleksius pernah mengemis di jalanan ketika mereka tidak memiliki penghasilan.

Yohanes meninggal dunia pada sekitar tahun 1257 di kapel biara saat mendengarkan Injil, sedangkan Buonfiglio pada 1 Januari 1261 di Italia. Bartolomeus, yang bertugas mengurus biara di Caffagio, meninggal dunia pada 18 April 1266 di Monte Sennario, Italia. Benediktus, prior jenderal Ordo Servites yang keempat, meninggal dunia pada 20 Agustus 1268. Gerardino Sostegno, yang pernah memimpin Ordo Servites provinsi Umbria dan menyebarkan ordo ini hingga ke Jerman, meninggal dunia pada sekitar tahun 1282. Sementara Hugo dei Lippi-Uguccioni, yang pernah ditunjuk sebagai Vikaris Jenderal Ordo Servites di Jerman, meninggal dunia pada 3 Mei 1282.

Aleksius adalah pendiri Ordo Servites yang meninggal terakhir. Ia bahkan menjadi satu-satunya yang masih hidup ketika ordo ini diakui oleh Paus Benediktus XI pada tahun 1304. Ia wafat pada tahun 1310. Sebelum meninggal ia berkata: Berbahagialah orang-orang yang dengan setia mengabdikan diri kepada Yesus dan Ibunda-Nya, Maria. Ketujuh saudara ini dibeatifikasi pada 1 Desember 1717 oleh Paus Klemen XI, dan pada 15 Januari 1887 dikanonisasi oleh Paus Leo XIII.

Apa yang Dapat Dipelajari?
Kisah hidup Santo Buonfiglio dan kawan-kawan dapat menarik perhatian bukan saja untuk kaum religius, melainkan juga kaum awam. Bagi kaum awam, ketujuh orang kudus ini seakan mengingatkan kembali akan pesan-pesan Tuhan Yesus bahwa harta kekayaan bukanlah segala-galanya. Harta kekayaan hendaknya dipergunakan untuk kebaikan bersama, bukan hanya untuk diri sendiri. Selain itu, ketujuhnya memberi teladan hidup rohani. Mereka mengajak kita untuk memiliki semangat devosi dan ekaristi.

Bagi para imam, ketujuh orang kudus ini seakan mengajak para imam untuk kembali setia pada janji/kaul kemiskinan yang diucapkan saat menerima tahbisan. Setelah menjadi imam, mereka benar-benar menghayati kemiskinan. Ini sangat kontras dengan kebanyakan para imam dewasa ini, yang setelah tahbis justru menjadi kaya, bergelimang harta kekayaan. Santo Bounfiglio dan kawan-kawan mengajak para imam untuk lebih memperhatikan pelayanan kepada Allah, Gereja dan umat daripada mengejar jabatan, kekuasaan dan harta.

Di samping itu juga, ketujuh orang kudus ini memberikan teladan hidup tidak haus kekuasaan dan jabatan. Dikatakan bahwa mereka menolak jabatan-jabatan yang tinggi dalam gereja. Jabatan tinggi ini selain terkait dengan kuasa juga uang. Orang dengan jabatan tinggi, selain memiliki kuasa tinggi, juga penghasilan berlimpah. Namun semua itu ditolak mereka. Teladan ini sangat cocok untuk para imam. Tak bisa dipungkiri ada imam yang begitu serakah akan jabatan dan kekuasaan. Untuk kekuasaan itu mereka menciptakan politik oligarki, supaya jabatan-jabatan penting, baik di paroki maupun yayasan, dikuasai oleh segelintir imam. Santo Buonfiglio dan kawan-kawan mengajak para imam untuk lebih mengutamakan kepentingan Tuhan, Gereja dan umat daripada kepentingan pribadi.***

image_pdfimage_print

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*