Warna Liturgi

Dalam Perayaan Ekaristi warna sangat dimanfaatkan sebagai unsur sangat penting dalam menciptakan suasana religius, sekaligus memberi sentuhan agar dapat mengantar umat kepada pertemuan dengan yang Ilahi.

Gereja Katolik mempunyai pemahaman norma tersendiri dan baku akan warna. Setiap warna direfleksikan sebagai suatu nilai dan makna rohani tertentu. Begitu juga kapan waktu pemakaian warna tersebut disesuaikan dengan masa-masa liturgi dan perayaan-perayaan tertentu menurut penaggalan tahun liturgi. Warna yang dimaksud dalam liturgi adalah warna Stola dan Kasula yang dipakai oleh Imam.

Dalam liturgi, warna melambangkan:

  1. Sifat dasar misteri iman yang kita rayakan,
  2. Menegaskan perjalanan hidup Kristiani sepanjang tahun liturgi

Hijau (H)

Pada umumnya, warna hijau dipandang sebagai warna yang tenang, menyegarkan, melegakan, dan manusiawi. Warna hijau juga dikaitkan dengan musim semi, di mana suasana alam didominasi warna hijau yang memberi suasana pengharapan. Hijau pada dipandang sebagai warna kontemplatif dan tenang.

Karena warna hijau melambangkan keheningan, kontemplatif, ketenangan, kesegaran, dan harapan, warna ini dipilih untuk masa biasa dalam liturgi sepanjang tahun. Dalam masa biasa itu, orang Kristiani menghayati hidup rutinnya dengan penuh ketenangan, kontemplatif terhadap karya dan sabda Allah melalui hidup sehari-hari, sambil menjalani hidup dengan penuh harapan akan kasih Allah.

Putih (P) dan atau kuning

Warna putih dikaitkan dengan makna kehidupan baru, sebagaimana dalam liturgi baptisan si baptisan baru biasa mengenakan pakaian putih. Warna putih umumnya dipandang sebagai simbol kemurnian, ketidaksalahan, terang yang tak terpadamkan dan kebenaran mutlak. Warna putih juga melambangkan kemurniaan sempurna, kejayaan yang penuh kemenangan, dan kemuliaan abadi. Dalam arti ini pula mengapa seorang paus mengenakan jubah, single dan solideo putih.

Warna kuning umumnya dilihat sebagai warna mencolok sebagai bentuk lebih kuat dari makna kemuliaan dan keabadian, sebagaimana dipancarkan oleh warna emas. Dalam liturgi, warna putih dan kuning digunakan menurut arti simbolisasi yang sama, yakni makna kejayaan abadi, kemuliaan kekal, kemurnian, dan kebenaran. Itulah sebabnya warna putih dan kuning bisa digunakan bersama-sama atau salah satu.

Warna putih atau kuning dipakai untuk masa Paskah dan Natal, hari-hari raya, pesta dan peringatan Tuhan Yesus, kecuali peringatan sengsara-Nya. Begitu pula warna putih dan kuning digunakan pada hari raya, pesta dan peringatan Santa Perawan Maria, para malaikat, para kudus atau para santo-santa yang bukan martir.

Merah (M)

Warna merah merupakan warna api dan darah. Maka, warna merah ini amat dihubungkan dengan penumpahan darah para martir sebagai saksi-saksi iman, sebagaimana Tuhan Yesus Kristus sendiri menumpahkan darah-Nya bagi kehidupan dan keselamatan dunia. Dalam tradisi Romawi kuno, warna merah merupakan simbol kuasa tertinggi, sehingga warna itu digunakan oleh bangsawan tinggi, terutama kaisar. Apabila para kardinal memakai warna merah untuk jubah, singel, dan solideonya, maka itu dimaksudkan agar para kardinal menyatakan kesiapsediaannya untuk mengikuti teladan para martir yang mati demi iman.

Dalam liturgi warna merah dipakai untuk hari Minggu Palma, Jumat Agung, Minggu Pentakosta, dalam perayaan perayaan sengsara Kristus, pada pesta para rasul dan pengarang Injil, dan dalam perayaan-perayaan para martir.

Ungu (U)

Warna ungu merupakan simbol bagi kebijaksanaan, keseimbangan, sikap berhati-hati, dan mawas diri. Maka warna ungu dipilih untuk masa Adven dan Prapaskah sebab pada masa itu semua orang Kristiani diundang untuk bertobat, mawas diri, dan mempersiapkan diri untuk menyambut Hari Raya Natal dan Hari Raya Paskah. Warna ungu juga digunakan untuk perayaan/ibadat tobat.

Pada umumnya, liturgi arwah menggunakan warna ungu sebagai ganti warna hitam. Dalam liturgi arwah itu, warna ungu itu melambangkan penyerahan diri, pertobatan, dan permohonan belaskasihan dan kerahiman Tuhan atas diri orang yang meninggal dunia dan kita semua sebagai umat beriman.

Kesimpulan

Hari raya dan pesta Tuhan disusun menurut urutan historis. Dengan demikian kita diberi  kesempatan untuk menghayati kembali peristiwa-peristiwa besar dari hidup Tuhan Yesus, melalui perayaan liturgis demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan dunia. Yesus adalah penebus sejak inkarnasi-Nya. Maka dari itu, kita merayakan dan mengalami kuasa penebusan dan penyelamatan-Nya dalam setiap peristiwa yang disajikan dan dirayakan sepanjang tahun liturgi Gereja.

Dengan memasukkan peristiwa-peristiwa historis hidup Tuhan Yesus ke dalam perayaan liturgis, sepanjang Tahun Liturgi, Gereja membantu kita untuk menghantar kuasa penebusan Kristus secara sakramental. Bahwa apa yang dulu pernah dilakukan Yesus dalam pelayanan historis-Nya, sekarang Ia lakukan, sebagai Tuhan yang bangkit dan melalui Roh Kudus, dalam misteri-misteri yang dirayakan dalam liturgi.

Tahun liturgi menawarkan kita untuk menghidupkan kembali seluruh sejarah keselamatan dan kehidupan Kristus, selama setahun. Hal ini mencakup peristiwa utama kehidupan Kristus: kelahirannya (Natal) kematian dan kebangkitanNya (Paskah), karunia Roh (Pentakosta).

Tahun Liturgi mengundang kita  untuk menyambut Tuhan dalam hidup kita dan tetap setia dengan penuh pengharapan menantikan pemenuhan Kerajaan Allah. Kita menyatakannya itu secara aklamatif dalam setiap perayaan Ekaristi, “Mysterium Fidei” :

“Marilah kita menyatakan misteri iman kita :

Wafat Kristus kita maklumkan,

kebangkitanNya kita muliakan,

kedatangan-Nya kita rindukan.”

Tahun Liturgi membantu kita terhadap misteri-misteri iman yang kita rayakan dan menghayat-hidupinya dalam hidup sehari-hari.

 

Philipus Seran.

 Ahli Liturgi Keuskupan

image_pdfimage_print

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*