Pertobatan: Dari Sadar Diri Menuju Hidup Sehat

Selama masa prapaskah salah satu usaha kesalehan yang dibangun adalah pertobatan. Pertobatan yang dimaksud, dapat diwujudkan dalam sakramen pengampunan dosa yang oleh Gereja diharapkan selalu dilakukan sekurang-kurangnya sekali dalam setahun (bdk. Lima Perintah Gereja). Dalam perayaan sakramen pengampunan dosa (pengakuan), seorang petobat melewati tahap penyadaran dan pengakuan, penyesalan dan niat, serta permohonan ampun atas dosa-dosa.

Sebenarnya tidak hanya di masa prapaskah, di saat-saat lain pun umat beriman selalu didorong untuk bertobat dengan mengakukan dosa-dosanya agar bisa hidup lebih pantas. Namun, pertanyaan-pertanyaan yang bisa kemudian muncul antara lain; apakah pengakuan dosa dilakukan hanya sekedar memenuhi perintah Gereja? Seberapa pentingkah pengakuan dosa bagi seorang berdosa?

Dosa: Situasi sakit

Hal yang paling umum kita ketahui yakni bahwa dosa selalu terdefinisikan dari kesalahan-kesalahan yang kita lakukan. Prilaku-prilaku yang awalnya adalah kesalahan manusiawi yang “wajar” kemudian dalam konteks moral ­- spiritual dipahami sebagai dosa. Dengan konsep dosa, seseorang secara moral diingatkan untuk bertobat dan menjalani hidup dengan lebih benar dan pantas; karena berdosa berarti membangkang Tuhan dengan merusakkan relasi antara manusia dengan Tuhan dan dengan sesama. Refleksi demikian biasanya dapat lahir dengan mudah dari orang-orang yang memiliki tingkat spiritual atau kerohanian tertentu yang sudah lebih baik.

Sebenarnya, kalau kita mau berpikir lebih sederhana lagi pun, kita dapat sampai pada kenyataan bahwa kesalahan selalu menimbulkan rasa malu. Kesalahan ini tidak hanya terjadi dalam prilaku seseorang, tetapi secara berantai mulai dari pikiran, perasaan, hingga motivasi dan sikap. Orang-orang yang berpikiran secara keliru, biasanya tanpa diketahui pun secara pribadi merasa kurang nyaman berada di antara orang lain. Perasaan demikian kadang-kadang dapat membuat seseorang enggan menjumpai orang lain, atau berprilaku menghindar dan sembunyi-sembunyi dari lingkungannya. Apabila kondisi ini terus dibiasakan dan terpelihara, maka akan terjadi apa yang disebut self defeating atau maladaptif.

Kondisi demikian disebut sebagai sakit (abnormal) karena membuat kita menjadi kurang maksimal menyelesaikan pekerjaan atau bertanggungjawab dalam tugas-tugas harian kita sebagaimana diharapkan oleh masyarakat atau lingkungan kita. Pikiran, perasaan, motivasi dan prilaku-prilaku negatif karena kesalahan umumnya selalu membuat seseorang sulit beradaptasi dengan lingkungan atau berada bersama dengan orang lain. Barangkali dalam konteks inilah dapat juga dipahami bahwa dosa itu adalah situasi sakit yang membuat seseorang tidak berdaya berada di tengah lingkungannya dan gagal menjalankan perannya sebagai mana mestinya.

Dari kesadaran diri menuju manusia super sehat

Panggilan menuju pertobatan sesungguhnya mesti dimulai dari kesadaran bersama perihal perasaan bersalah (berdosa). Mengajak seseorang untuk mengaku dosa memang tidak mudah, kalau perasaan bersalah atau berdosa tidak dimiliki oleh yang bersangkutan. Kiranya sama beratnya dengan menyuruh seseorang berobat ke dokter, sementara yang bersangkutan tidak pernah merasakan dan menerima kenyataan bahwa dirinya sedang sakit. Demikian jugalah seorang yang sakit mental sering menolak untuk dibantu dan balik menuduh orang-orang di sekitarnyalah yang kurang waras. Apakah sikap ini juga sering muncul dari diri kita para pendosa? Boleh jadi, demikian.

Namun dengan cara pandang sederhana di atas, seharusnya menguatkan kita bahwa tanpa penilaian moral yang kuat dan sikap rohani yang tinggi pun, kita sudah dapat menyadari bahwa pikiran, perasaan dan perbuatan salah dan dipelihara terus menerus pun dapat membuat kita berada dalam situasi yang tidak wajar atau tidak normal. Orang gagal menjalankan perannya di masyarakat dan keluarga dengan baik, bahkan dapat sering merasa malu dan menghindar dari lingkungan yang dianggapnya sebagai ancaman.

Dengan demikian, pertobatan yang dimulai dari pengakuan dosa, dapat menjadi momen penting bagi setiap orang beriman untuk sadar akan dampak buruk dari kesalahan yang terus dipelihara dan disembunyikan, dan berjuang memulihkannya dalam kerja sama dengan orang yang dipercayai (dalam hal ini imam). Dengan melakukan tindakan pertobatan ini berulang-ulang, kita sebenarnya tidak hanya menyucikan diri menjadi lebih bersih dan sehat secara spiritual, tetapi sekaligus menjadi orang super sehat secara mental.

Servasius Samuel

image_pdfimage_print

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*