Makna Hari Pentakosta

Pentakosta adalah suatu peristiwa dimana turunnya Roh Kudus keatas Para Rasul. Tepat lima puluh hari setelah Perayaan Kebangkitan Tuhan kita yang mati dikayu salib demi menebus dosa-dosa kita, dan setelah sepuluh hari kenaikan Tuhan. Pentakosta pertama-tama adalah suatu pesta bagi bangsa Israel yang dirayakan lima puluh hari sesudah Paskah untuk mengenang pemberian Sepuluh Perintah Allah kepada Musa di Gunung Sinai.

Tapi Musa juga mendapatkan sesuatu yang lebih dari itu yaitu ketika Tuhan Allah “mengambil Roh yang hinggap pada Musa, dan menaruhnya atas tujuh puluh tua-tua” (Bil 11:25). Karena dikuatkan oleh Allah, para tua-tua itu mulai bernubuat. Musa memaklumkan keinginannya agar “seluruh umat Tuhan menjadi nabi, karena Tuhan juga memberikan Roh-Nya hinggap pada mereka!” (Bil 11:29). Tentulah anda berpikir bahwa, dengan rahmat istimewa itu, Bangsa Israel sudah memulai suatu era damai dan kesetiaan. Tetapi, yang terjadi di luar dugaan!, Mereka malah memberontak. Tetapi, dengan cepat era baru itu merosot ke dalam perilaku asusila, penyembahan berhala, dan kekerasan ataupun korupsi seperti yang dilakukan oleh Gayus dan Angelina Sondakh. Kaum beriman awam merasa sulit untuk dapat menyesuaikan diri dengan situasi yang bikin geleng-geleng kepala seperti saat ini.

Lalu, apa manfaat dari pencurahan roh itu?
Dengan hanya mengamati penampilan-penampilan lahiriah, barangkali anda akan berkata bahwa pencurahan roh itu hasilnya nihil. Tetapi jika kita teliti lebih dalam lagi, Allah mencurahkan Roh-Nya kepada Musa,70 tua-tua dan kepada kita supaya kita sebagai umat Katolik dengan sungguh-sungguh dapat memahami dan mendengar Sabda Tuhan.

Kini, marilah kita beranjak ke Pentakosta Perjanjian Baru. Lima puluh hari sesudah bangkitnya Yesus dan naik-Nya ke Kerajaan Surgawi, 12 Rasul behimpun di Yerusalem untuk merayakan Hari Pentakosta. Pada saat itu Allah mentepati janji-Nya untuk mencurahkan Roh-Nya keatas mereka. Dan disaat-saat itu seperti ada sebuah api yang menyala-nyala diatas Para Rasul dan Bunda Maria dan mereka pun mulai berbicara dengan bahasa asing. Disaat itu pula-lah tergenapi Nubuat Nabi Yoel “Juga, pada hari-hari itu akan Kucurahkan Roh-Ku keatas hamba-hamba-Ku laki-laki dan perempuan dan mereka akan bernubuat” (Yl 2:28-32).

Mengucapkan Hal-hal Yang Rahasia
Pertama-tama mari kita cermati apa yang Santo Paulus katakan tentang hal ini “Siapa berkata-kata dengan bahasa roh tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorang pun yang mengerti bahasanya; karena bisikan Roh, ia mengucapkan hal-hal yang rahasia”(1 Kor 14:2). Semua ini menyingkapkan apa artinya bahasa roh, tetapi yang lebih penting untuk kita camkan adalah mengapa ada bahasa Roh, dan untuk itu Paulus memberikan penjelasan yang menarik “Dalam hukum Taurat ada tertulis, katanya, “lewat orang-orang yang berbicara dalam bahasa asing dan lewat mulut-mulut orang asing Aku akan berbicara kepada bangsa ini, namun mereka tidak akan mendengarkan Aku, Firman Tuhan. Karena itu 7 Karunia Bahasa Roh merupakan tanda, bukan untuk orang-orang beriman, melainkan untuk orang-orang tidak beriman sedangkan karunia untuk bernubuat adalah tanda, bukan untuk orang-orang tidak beriman” (1 Kor 14:21-22).

Masa-masa yang luar biasa
Allah mengutus Roh-Nya dengan kuasa untuk mempersiapkan suatu umat yang akan mampu hidup ditengah kekacauan itu. Ia menciptakan suatu Pentakosta baru untuk generasi pertama kaum beriman dan St.Paulus adalah satu orang tersebut yang mendapatkan Karunia dari Bahasa Roh. Di samping itu juga, karunia-karunia tersebut sungguh luar biasa. Bahkan pada Pentakosta Kristiani yang pertama itu, adegan para Rasul berbicara dalam bahasa-bahasa asing itu. Tampak tidak cocok dengan tradisi setempat. “Mereka semua tercengang-cengang dan sangat termangu-mangu sambil berkata seorang kepada yang lain, ‘Apakah artinya ini?” (Kis 2:13).

Dipenuhi Roh
Akhir abad ke 19 masa itu adalah masa-masa dimana dunia merasakan kemerosotan iman. Modernism dan kritisisme biblis merajalela, mengaburkan Pribadi Yesus dan membuat kebenaran iman tampak semakin sulit dipahami oleh umat beriman. Khususnya denominasi Protestan. Sekularisasi telah melanda banyak lembaga Kristiani tradisional Barat. Katanya, Paus Leo XII telah mendapat suatu penglihatan: dibalik semua ini, tangan Si Malaikat Jatuh sedang bekerja untuk menguasai dan millennium yang akan datang ; dalam penglihatan itu ia juga menyaksikan pertempuran sengit yang akan terjadi pada abad ke-20.

Pada tahun 1897, Paus Leo menerima surat-surat dari seorang biarawati dari Italia yang bernama Beata Elena Guerra, pendiri Tarekat Oblat Roh Kudus. Ia mengharapakan supaya Bapa Suci membuka abad yang datang dengan melagukan Veni Creator Spiritus dan supaya Paus minta kepada para Uskup dan seluruh umat beriman agar mengadakan novena kepada Roh Kudus. Tidak mengherankan, banyak Orang Katolik melihat semua ini sebagai suatu gerakan Protestan, sebab gerakan itu muncul dan menyebar di luar Gereja Institutional. Tetapi, yang tidak disadari oleh banyak orang Katolik adalah bahwa cabang-cabang utama Protestanisme pun tidak mengakui Pentakolisme sebagai milik mereka, Pada tahun 1950-an, seorang Imam Spanyol, Santo Josemaria Escriva, menulis, “Berdoalah bersama saya untuk memohon suatu Pentakosta baru, yang sekali lagi akan membuat dunia ini bernyala.”

Sumber: Katolisitas-Indonesia

image_pdfimage_print

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*