Ketika Tobat Menjadi Keharusan

Dalam suatu kesempatan pertemuan para imam bersama uskupnya di sebuah keuskupan antah berantah, berdirilah seorang imam senior dan memiliki jabatan penting dalam jajaran struktural keuskupan hendak bertanya kepada bapa uskup. Pertanyaannya berbunyi seperti ini: melihat situasi kenyataan di lapangan, dimana ruang pengakuan dosa selalu sepi, hampr tidak ada pengunjung yang mau mengaku dosa; apakah Sakramen Tobat itu masih perlu dan sebuah keharusan?

Mendengar pertanyaan kritis yang “konyol” ini, sang uskup langsung berang dan memarahi sang imam tersebut. Intinya sang uskup menegaskan bahwa ini adalah sakramen yang sudah ditetapkan oleh gereja sekian lama, kok Anda mau menghapuskannya? Justru saudara bertugas membuat Sakramen Tobat itu laris manis dan rame ruang pengakuan dosa, tegas uskup yang sudah uzur ini.

Pernyataan-pertanyaan sang imam di atas, bisa ditanggapi secara berbeda-beda. Namun satu hal yang pasti bahwa Sakramen Tobat itu harus tetap ada dan umat harus bertobat. Itu saja jawaban yang tepat dan mutlak. Memang kalau dibuat pemetaan lapangan, di sana kita menemukan ada perbedaan yang mencolok soal antuasisme umat yang mau mengaku dosa atau tidak, yang tersebar di wilayah keuskupan di indonesia. Mungkin untuk wilayah Flores dan Jawa, keharusan mengaku dosa ini masih sangat kental. Lalu tanpa mendiskriminasi wilayah lain, kesan saya antusiasme untuk menerima Sakramen Tobat masih butuh katekese lanjut.

Paus Pius XIII mensinyalir bahwa dunia dewasa ini, tempat rasa berdosa telah menurun. Salah satu aspek yang melatari realitas ini ialah kurangnya cinta kepada Tuhan yang pada akhirnya menghalangi persepsi terhadap realitas dosa dan kejahatan. Hal ini dipertegas lagi oleh Paus Yohanes Paulus II (tahun 1985), bahwa orang cenderung mengidolakan cinta kepada diri dan kehebatan globalisasi, ketimbang cinta kepada Tuhan. Kadar cinta kepada Tuhan yang semakin berkurang menunjukkan ada suatu upaya pembelokan sasaran cinta.

Romo E. Martasudjita,Pr (Dosen Liturgi Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta) dalam bukunya “Sakramen dan Sakramentali“ mengemukakan bahwa dewasa ini, di banyak tempat Sakramen Tobat kurang diminati lagi. Di negara-negara Barat, tempat-tempat pengakuan dosa sudah kosong. Orang yang datang mengaku dosa sangat sedikit, bahkan hampir tidak ada. Di Indonesia, bisa dikategorikan berdasarkan daerah-daerah tertentu. Ada daerah yang masih sangat kental budaya pengakuan dosa masa biasa maupun masa khusus. Tapi ada daerah yang jangankan masa biasa, masa khusus seperti masa prapaskah dan masa adven saja sangat minim. Dengan demikian, disinyalir bahwa dengan kemajuan cara berpikir dan pendidikan yang tinggi, orang menjadi semakin rasional dan dalam arti tertentu mudah kehilangan rasa berdosa, sebab orang dapat membuat rasionalisasi perbuatannya.

Pernyataan yang dikemukakan di atas, bukan tanpa alasan. Saya yakin ini berangkat dari suatu realitas yang mudah diidentifikasi. Pertanyaanya adalah apakah benar rasa berdosa sudah hilang, rasionalisasi menguasai diri atau ada aspek lain yang melatarinya? Terlepas dari dugaan hipotesa ini, pada kesempatan ini, saya ingin melemparkan hasil analisa penulis berdasarkan konteks pastoral yang penulis alami dan amati.

Ada 3 hal yang melatari minimnya minat umat untuk menerima Sakramen Tobat, yang seharusnya menjadi suatu keharusan bagi setiap pengikut Kristus. Pertama, puas dengan modernisasi yang serba ada. Perkembangan hidup yang mengglobal di dunia modern yang serba canggi dan serba ada, banyak orang secara spontan merasa bahwa masalah yang terus-menerus mereka alami tidak lagi ada kaitannya dengan masalah dosa. Karena itu, mereka menghindari pengakuan dosa dan mencari keselamatan dan kesembuhan mereka pada seorang guru atau psikiater. Selain daripada itu, mereka juga lebih senang mengatasi rasa keberdosaan itu dengan mengkonsumsi obat-obat terlarang dan lebih senang berpesta mabuk-mabukan di cafe dan diskotik. Mereka mengambil disposisi diri yang jauh dari posisi Allah.

Kedua, Umat merasa malu. Model pengakuan dosa pribadi bagi sementara orang terasa berat, karena perasaan malu kepada imamnya. Lebih parah lagi kalau sang umat sungguh mengenal baik dan memiliki hubungan sangat dekat dengan imam bersangkutan. Hal ini mau tidak mau menyangkut rasa aman. Umat memiliki kekhawatiran bahwa jangan sampai setelah mengaku dosa nanti, jenis dosanya dibongkar oleh sang imam bersangkutan. Paling tidak, ada kecemasan bahwa ketika kotbah atau guyon saat perjumpaan, sang imam secara tidak sadar menyinggung dosa yang dilakukan oleh sang pendosa tersebut.

Umat perlu percaya secara utuh dan segera menghilangkan keragu-raguan tersebut dengan menerima ajaran Gereja yang berlaku mutlak serta wajib ditaati oleh sang imam. Kitab Hukum Kanonik menggariskan aturan atau hukum ini dengan jelas dan ketat dan siap untuk dilaksanakan. Kanon 983 § 1: Rahasia sakramental tidak dapat diganggu gugat; karena itu adalah durhaka  jika bapa pengakuan dengan kata-kata atau pun sedikit banyak mengkhianati peniten. § 2: Terikat wajib menyimpan rahasia itu, juga juru alih bahasa-jika ada, serta semua orang lain yang entah dengana cara apa pun mendapat tahu mengenai dosa-dosa dari pengakuan.

Ketiga, Pengaruh lingkungan Protestan. Beberapa saudara-saudari kita dari Gereja Protestan mengatakan “Mengapa dalam Gereja Katolik ada Sakramen Tobat?” Sekiranya ada dua alasan yang mereka sering ajukan adalah Pertama, bukankah hanya Allah yang berkuasa mengampuni dosa? Dasar mereka adalah Injil Markus 2:7 dan 1Yoh 1:9. Kedua, bukankah dosa itu urusan pribadi Allah dengan kita?? Pertanyaan rekan-rekan dari Gereja tetangga ini jelas menunjukkan bahwa mereka tidak menerima Tobat/Pengakuan Dosa sebagai sebuah sakramen. Dan memang demikian diajarkan dalam agama Protestan. Bisa jadi ini yang mempengaruhi umat Katolik, yang apalagi keberadaannya “terselip” di antara kerumunan jemaat Protestan yang mendominan.

Dengan demikian sebagai kesimpulan, dapat dikatakan bahwa mengingat Sakramen Tobat itu adalah suatu keharusan, maka realitas yang memprihatinkan di atas harus segera diatasi. Seiring dengan itu, Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa evangelisasi baru meminta upaya-upaya baru untuk mendatangkan umat beriman ke Sakramen Tobat. Tugas penggembalaan ini mutlak wajib (sine qua non: syarat mutlak-wajib).

Semua impian indah ini baru bisa memungkinkan terlaksana kalau ada upaya menggalang gerakan cinta terhadap Sakramen Tobat.  Dan sadarlah bahwa ketika Tobat menjadi suatu keharusan, jalan menuju surga semakin dipermulus. @min***

 

RD.Lorenzo Dihe

image_pdfimage_print

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*