Sharing Frans Wijayanto : Kembali Menjadi Katolik

Hampir setahun lalu, malam Sabtu, saya balik Katolik dari selama 1 tahun dari menjadi seorang muslim juru dakwah kontra kristiani. Karena malam saya tiba-tiba memutuskan kembali ke Katolik sangat tidak pernah saya duga atau rencanakan sebelumnya. Saat pulang dari warung langganan saya, posisi sedang naik motor, tiba-tiba saya merasakan luka batin yang mendalam seperti mau mati karena putus harapan, yang tidak hilang-hilang.

Tak lama ada bisikan dalam nurani saya bahwa Yesus menyatakan bahwa setiap manusia membutuhkan cinta-Nya, termasuk saya. Yesus meminta tempat dalam batin saya. Luka batin itu tidak hilang sampai akhirnya saya bilang dalam hati: “Baiklah, saya menyerah, dengan luka batin tiba-tiba ini, kalo memang Engkau benar-benar Tuhan, sembuhkanlah saya.”

Tidak lama kemudian luka batin itu berangsur-angsur hilang. Saya langsung lari curhat ke teman saya yang katolik yang selama ini sering saya dakwahi Islam. Besok Sabtu malam saya minta pengakuan dan diberi penitensi satu bulan. Minggunya saya ikut Misa di Gereja Cor Jesu Malang sambil menemani mama saya besuk sepupu saya di Asrama; dan kebetulan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Setiap mendengar ordinarium, saya menangis, saya merasakan begitu indah Liturgi Gereja Katolik, dan betapa Yesus mencintai saya. Saat homili imam menjelaskan mukjizat Lanciano yang meneguhkan. Saya sadar betapa saya selama ini betul-betul tidak memahami iman Katolik.

Beberapa hari setelahnya, saya ditemukan dengan Ketua Wilayah, dan oleh beliau saya diajak adorasi, dan beliau menjelaskan panjang lebar adorasi itu. Saat adorasi saya meminta kepada Yesus, “Saya masih bingung apa benar Engkau yang memanggil saya, yakinkan saya kalau Engkau memang Tuhan. Bimbinglah saya.” Saya mendengar dalam nurani saya ada bisikan, “Sering-seringlah ke sini. Aku rindu saat-saat pribadi bersamamu. Dan belajarlah banyak.”

Sejak saat itu saya mulai sering adorasi, dan membeli buku-buku katolik untuk saya pelajari. Buku pertama yang saya beli adalah buku Romo Piedyarto, karena tidak terlalu tebal, dan saya pernah dipinjami edisi yang lama oleh mama teman saya. Namun dulu saya gunakan refensi kanon Kitab Suci di dalamnya untuk menyusun kurikulum dakwah ke umat kristiani. Dan saya tidak berhenti di situ, saya cari website Katolik tempat saya bisa diskusi. Dan saya menemukan www.ekaristi.org sebagai website yang sangat baik.

Iman saya tumbuh oleh penjelasan member-member dan moderator-moderator di sana. Saya juga diinfokan seorang member di sana untuk ikut retret Opus Dei. Dari situ saya mengenal banyak anggota Opus Dei, mengenal Santo Josemaria Escriva melalui film dokumenternya dan bukunya Camino dan akhirnya sering ikut Kursus Katekismus. Dan sampai sekarang saya masih meminta bimbingan rohani di sana.

Saya tidak menyangka punya kesempatan bertemu Romo Pied bulan September lalu. Pada bulan Kitab Suci beliau menjadi pembicara seminar Kitab Suci. Saya datang ke acara itu dan saya bawa kelima jilid buku saya yang merupakan hasil karyanya, saya mintakan tanda tangan.

Mantan Guru TK saya yang enam bulan sebelum saya kembali katolik pernah saya kunjungi untuk saya sewa tempatnya untuk acara PAUD ormas Islam saya, pernah mengatakan bahwa saya seperti St. Agustinus yang dalam masa mencari Tuhan. Dulu sih saya tertawakan saja, saya anggap omongan sampah; tapi ternyata apa yang dikatakannya terjadi betulan.

Sampai sekarang, Gereja Cor Jesu, buku Romo Pied, www.ekaristi.org, serta Wisma Opus Dei Surabaya menjadi tempat kenangan paling indah buat saya. Santo Josemaria Escriva dan Santo Agustinus mendapat tempat khusus di hati saya. Dan tidak lama sejak saya kembali menjadi Katolik, mungkin sekitar 3-4 bulan kemudian, saya merasa terpanggil menjadi imam. Saya hanya terus berdoa, belajar, dan berkarya, semoga saya bisa memberikan sedikit yang tidak ada artinya kepada Kristus.

Sumber: Budak Bangka

image_pdfimage_print

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*