Perjuangan Janda Tua Pertahankan Iman Akan Yesus Kristus Kepada Anak-Anaknya

Paus Fransiskus, dalam seruan apostoliknya, Evangelii Gaudium, mengatakan bahwa telah terjadi kebuntuan pada cara umat katolik mewariskan iman katolik kepada kaum muda (no. 70). Hal ini terlihat pada orangtua yang tidak/kurang menekankan kesetiaan pada iman akan Yesus Kristus. Banyak orangtua bersikap permisif terhadap perilaku dan gaya hidup anaknya. Mereka membiarkan apakah anaknya ke gereja atau tidak; ikut doa komunitas atau tidak; berdoa atau tidak. Akibatnya, banyak anak muda sekarang begitu mudah meninggalkan Yesus Kristus dan Gereja-Nya, entah karena perkawinan, karier, jabatan atau karena alasan lain. Dan ketika hal ini terjadi, barulah orangtua sibuk: bingung dan menyesal.

Melihat keprihatinan ini, sangat menarik mendengarkan sharing seorang ibu tua dengan 4 orang anaknya, yang tinggal di perkampungan muslim melayu. Ibu tua ini seorang janda. Suaminya beberapa tahun lalu telah mendahuluinya ke alam baka. Mereka tinggal di sebuah desa di Kepulauan Lingga. Di desa itu agama katolik, sama seperti Buddha atau Konghucu, termasuk golongan minoritas. Umat katoliknya tak lebih dari 12 orang.

Ibu tua ini sebenarnya berasal dari keluarga muslim. Ayahnya seorang mualaf (dari suku Flores) yang menikah dengan seorang perempuan melayu. Perkawinan itu melahirkan 6 orang anak, dan ia adalah anak pertama.

“Cuma saya saja yang menjadi katolik,” cerita ibu tua ini. “Saudara-saudari saya lainnya tetap jadi islam. Tetapi, banyak dari mereka meninggal dunia tak lama setelah mereka menikah.”

Bagaimana dan sejak kapan ia menjadi katolik? Perjumpaan dengan seorang pemuda Flores, yang kemudian dilanjutkan ke pernikahan membuat ia menjadi katolik. Akan tetapi, tak bisa dilepaskan dari peran ayahnya, yang merestui, bahkan mendukungnya masuk katolik saat menikah. Dan itulah yang terjadi.

“Ketika saya memutuskan menjadi katolik, mengikuti keyakinan pasangan saya, terlihat raut wajah kecewa pada anggota keluarga saya. Hanya ayah saya yang memberi seulas senyum di bibirnya, walau terlihat juga butiran air mata membasahi pipinya.”

Beberapa tahun setelah menikah, ayahnya meninggal dunia. Sebelum meninggal, sang ayah menyampaikan dua pesan yang saling berkaitan, yaitu supaya ia tidak pernah meninggalkan iman katolik, dan supaya dia menjaga agar anak-anak tidak ada yang meninggalkan iman katolik. “Ayah saya sepertinya mau memperbaiki kesalahannya dahulu, telah meninggalkan iman katoliknya. Ia ingin agar ada anak dan keturunannya beriman pada Yesus Kristus. Ayah sadar akan tantangan yang saya hadapi ke depan.”

“Dan itu terbukti,” kisahnya. “Tak lama setelah masa duka berakhir, saudara-saudara dan anggota keluarga lainnya datang satu per satu membujuk saya untuk kembali ke islam. Gempuran rayu ini datang silih berganti. Ada yang mengatakan jika meninggalkan iman katolik, maka saya mendapatkan sedikit warisan tanah peninggalan ayah. Ada juga yang mempengaruhi dengan menjelek-jelekkan agama katolik. Namun saya tidak peduli pada semua rayuan itu. Suami saya turut membantu agar saya bertahan melewati badai cobaan ini.”

Karena itu, sekalipun bujuk rayuan terus menggoda, ibu tua ini, bersama suami dan anak-anaknya tetap setia pada iman katolik. Tantangan mereka bukan cuma lingkungan yang muslim, tetapi juga minimnya pelayanan pastoral. Pastor jarang mengunjungi mereka. Sekalipun ada kunjungan, waktunya sangat terbatas, karena pastornya harus segera berangkat ke tempat lain. Maklum, medan pastoral di sini terdiri dari pulau-pulau, sementara tenaga pastoralnya sangat terbatas. Di saat musim teduh, laut terlihat tenang, tapi di saat lain air laut bergelora sehingga sulit untuk berlayar. Hal ini membuat kunjungan pastoral pun terputus.

Di tengah tantangan dan kesulitan inilah ibu tua ini terus berjuang mewujudkan pesan ayahnya. Ia senantiasa mengingatkan anak-anaknya untuk tetap setia pada Yesus Kristus dan Gereja-Nya. Jangan pernah meninggalkan iman katolik. Ia sendiri sudah bulat dengan imannya kini.

Tantangan dan godaan kembali muncul ketika suaminya meninggal dunia. Anggota keluarganya kembali membujuk dan mempengaruhi dia untuk meninggalkan iman katolik. Mereka tak segan-segan menawarkan kekayaan kepadanya. “Kalau kamu kembali ke islam, anak-anakmu juga akan mengikuti kamu,” demikian kata-kata mereka. “Untuk apa lagi kamu di situ (katolik – red). Toh suamimu sudah mati.”

Namun ibu tua ini tetap kukuh pada pendiriannya. Ia tetap setia pada iman katolik karena ingat akan pesan ayahnya. Kesetiaan itu ditularkannya kepada anak-anaknya. Ia terus berjuang supaya anak-anaknya tidak ada yang meninggalkan iman katolik. Keteguhannya ini sedikit demi sedikit mulai membuahkan hasil. Tiga anaknya mendapat jodoh dan menikah dengan orang katolik.

“Ketakutan saya saat ini adalah dengan si bungsu. Sampai saat ini belum ada jodoh, padahal gadis-gadis di kampung ini sudah pada naksir dia.”

Tak ada yang bisa dilakukannya selain berharap dan berdoa supaya anaknya yang bungsu mengikuti jejak saudara-saudaranya.

Ujung Beting, 21 Maret 2016

image_pdfimage_print

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*