Menjadi Orang Katolik

Beberapa hari yang lalu, aku pertama kali mengenal Katolik lewat internet. Anehnya, aku mencari di Google tentang “mukjizat Maria”. Lalu di pencariannya aku mendapatkan situs yesaya.indocell.net. Awalnya, yang kubaca itu tentang penampakan Maria di Naju, Korea (Info, Penampakan ini telah ditolak Gereja Katolik). Lalu, aku mulai membuka artikel yang lain. Terutama kisah para kudus, yang kebanyakan menjadi inspirasi hidupku. Kemudian, aku membaca semua kisah penampakan tentang Bunda Maria. Dan, yang paling membuatku berkesan adalah kisah penampakan Bunda Maria kepada St. Juan Diego di Guadalupe.

Pada hari Minggu, aku pergi ke gereja Protestan seperti biasanya. Sehabis pulang dari gereja, aku pergi ke toko rohani Protestan di gereja. Betapa terkejutnya aku! Aku menemukan lukisan Bunda Maria dari Guadalupe di toko tersebut (padahal toko itu dikelola oleh gereja Protestan). Aku langsung membeli lukisan tersebut. Memajangnya di kamarku. Anehnya, aku semakin menyukai gambarnya dan berdoa kepada Bunda Maria di depan lukisan tersebut. Itulah, pertama kalinya aku berdevosi kepada St. Perawan Maria.

Di situs Katolik tersebut, aku juga mempelajari tentang “mengunjungi gereja Katolik”. Akhirnya, aku belajar sendiri bagaimana caranya masuk ke dalam gereja Katolik. Hari Minggu selanjutnya aku pergi ke gereja Katolik untuk pertama kalinya 2 Mei 2010. Awalnya aku bingung, takut salah tata cara masuk ke dalam gereja. Walaupun misa hampir mulai, aku tetap menunggu di parkiran. Lalu, datang sepasang suami istri yang juga hendak masuk ke gereja. Suaminya memarkirkan sepeda motornya di parkiran, sedangkan istrinya masuk ke dalam gereja. Akupun mengikuti istrinya masuk ke dalam gereja. Pertama, kulihat dia mengambil air lalu membuat tanda salib. Kuikuti juga. Lalu dia berlutut menghormati Tabernakel, kuikuti juga. Lalu, aku duduk di kursi di dekatnya.

Awalnya, aku canggung dengan misa, takut salah gerakan dan doanya. Jadi, aku lebih banyak diam. Saat Komuni, aku bingung antara mau maju atau enggak. Lalu, aku bertanya kepada perempuan di dekatku, “Yang mengambil Komuni itu, cuma orang Katolik kan?”
Perempuan itu menjawab, “Iya, kamu sudah Komuni belum?”
Kujawab dia, “Belum.”

Anehnya, ketika aku mengatakan hal tersebut batinku berkata, “Kalau begitu, kamu belum bisa maju.”
Lalu, perempuan tersebut maju untuk Komuni. Sementara aku cuma duduk diam saja di kursi. Setelah pulang dari gereja, aku merasa senang ikut misa. Aku merasa lebih damai. Kemudian aku memantapkan hatiku untuk menjadi seorang Katolik. Aku memberanikan diri menemui imam untuk menyatakan keinginanku menjadi Katolik. Saat aku bertemu dengan imam akupun bertanya apakah aku harus dibaptis lagi untuk jadi seorang Katolik? Imam itupun bertanya tentang asal gereja Protestanku darimana, lalu kujawab saja. Setelah itu, dia mengatakan tak perlu lagi dibaptis. Cukup ikut katekumen saja.

Saat Jumat Pertama, aku ikut misa dan membawa barang-barang rohani di rumahku (Salib dan lukisan Bunda Maria dari Guadalupe) untuk diberkati oleh imam. Sehabis pulang dari gereja akupun bertanya dengan imam untuk membeli Rosario. Dan setelah membeli Rosario, Imampun memberkati Rosario yang kubeli itu.
Sepulangnya dari rumah aku mulai berdoa Rosario untuk pertama kalinya sekaligus menghafal doa-doanya. Sejak saat itu, aku mulai jatuh cinta dengan doa Rosario dan Salam Maria.

Sumber: Budak Bangka

image_pdfimage_print

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*