Ketika Rosario Menjawab Permohonan

Tatkala hatinya berlabuh pada hidup membiara, ia gundah gulana. Maria Monika mengalami pergulatan batin. Orangtua, sanak saudara menentang cita-citanya. Batinnya menangis! Suatu ketika, tiga malam berturut-turut, Monika tak dapat tidur. Ingatannya selalu terbayang pada kesengsaraan Yesus di salib. Ada suatu yang mengusik batinnya. “Aku telah menderita untukmu, apa yang akan kau perbuat untuk-Ku?” Suara itu semakin menggelora untuk menjalani hidup membiara.

Tak diduga, suatu sore ketika Monika sedang disuruh belanja oleh ibunya, seorang suster datang ke rumahnya. Ketika memasuki rumah, Monika menjumpai neneknya menangis histeris. Melihat nenenya menangis, Monika penasaran bercampur takut. “Seperti ada orang yang meninggal,” jelasnya.
“Mengapa koq mau jadi suster, nduk?” kisah Monika menirukan pertanyaan neneknya. “Apa sudah tidak cinta sama nenek, ibu bapakmu. Nenek mati saja kalau kamu menjadi suster.”

Alumnus SPG Negeri Blora, Jawa Tengah, ini semakin sedih. Terlebih ketika ayahnya, Agustinus Yosef Suharto, tak mau makan malam. Semalaman ayahnya hanya duduk di beranda rumahnya. bahkan sampai fajar menyingsing.

Pagi harinya, Monika membuatkan kue untuk sang ayah. “Nduk apa benar kamu mau jadi suster? Apa alasanmu?” tanya ayahnya.
Monika tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Ia malah terharu melihat sang ayah menangis tersedu-sedu. “Ayah tidak merestuimu,” demikian sang ayah.

Puisi Bunda
Tatkala keinginan Monika untuk membiara semakin membara, larangan dari keluarganya semakin besar. “Sampai kakak sepupu saya mencari orang pintar untuk membatalkan niat saya,” cerita Kepala SMP Notre Dame, Jakarta barat, ini. Menurut cerita kakak sepupunya, saat orang pintar itu sedang meditasi dan “mengguna-gunai”, ia melihat sinar di atas kepada Monika.

Tekad Monika sekuat baja. Semua keluarga akhirnya tak mampu membendung niatnya. Sebelum mengambil keputusan, Monika memohon petunjuk Bunda Maria melalui doa rosario. Setiap malam, Monika tekun berdoa rosario. “Jika Tuhan menghendaki, saya pun siap menjalani,” tegas Monika mengenang pengalamannya.
Puncaknya, perempuan kelahiran 7 Maret 1961 ini berziarah ke Sendangsono bersama ibunya. Fajar belum menyingsing. Lambaian dedaunan di sekitar Sendangsono seakan menggigit-gigit kulitnya. Terasa amat dingin.

Pucuknya bergoyang-goyang seolah menemani perjalanan Monika. Sesekali ia melapas pandangan ke kanan kiri jalan yang masih gelap. Meski baru pertama kali melintasi jalan itu, tak ada rasa takut yang menghinggapinya.

Medio 1979, jalan menuju Sendangsono masih becek dan berlumpur. Untuk sampai Sendangsono, mereka berjalan kaki hampir 4 jam. “Kami jalan kaki mulai dari Kulon Progo. Saya sempat beberapa kali terpeleset. Bahkan ibu saya tiga kali terjatuh,” kisah buah cinta pasutri Agustinus Yosef Suharto dan Maria Christina Sutiyah ini. Di Gua Maria Sendangsono inilah Monika mematrikan benih panggilannya.
Monika terharu melihat semangat ibunya. Saat ia memutuskan pilihan hidupnya, ibunya setia menemaninya. Ketulusan sang ibu dalam mencintai anaknya, mengingatkan Monika akan kasih dan kesetiaan Bunda Maria dalam mendampingi dan menyertai Yesus puteranya. Monika merasakan cinta ibu begitu besar kepada anaknya. Mereka berjuang melewati jalan berlumpur dan berlubang.

Pengalaman itu masih melekat dalam ingatnnya. Untuk menggambarkan cinta sang ibu, Monika menuliskannya ke dalam sebuah puisi. “Hari ini kutulis sebuah puisi dengan air cinta sebening mata bunda. Mata bunda yang bening senantiasa menarik, yang kutatap sejak aku disusui, dibelai, dikecup, didekap, dan diciumnya. Wajah yang ceria senantiasa tersenyum. Kurasakan adalah kehangatan cinta penuh kasih, aku merasakan denyutan cinta dan kemurnian hatinya,” kata Monika yang sejak remaja suka mengungkapkan pengalamannya melalui tulisan.

Restu Ayah
Melalui doa rosario, Monika semakin mantap pada pilihan hidupnya. Suatu malam, Monika meminta izin kepada ayahnya. Batinnya gulana. Ia masih menyangsikan, apakah sang ayah akan memberi restu atau menolaknya. Dengan terbata-bata dan menahan sedih, Monika mengutarakan niatnya.

Sang ayah langsung memeluk dan menangis. “Selama 3 tahun ayah berperang melawan Tuhan, tetapi ayah kalah,” cerita Monika meniru kata-kata ayahnya. Akhirnya sang ayah merelakan puteri pertamanya menjadi biarawan. “Ayah mengizinkan kamu. Jika ini tekadmu, jangan pernah menoleh lagi! Ikuti jalan panggilanmu dengan penyerahan total. Jangan setengah-setengah!” tegas sang ayah.

Monika pun merasakan kelegaan yang luar biasa. Suatu ketika sang ayah menginginkan buah mangga. Permintaan ayahnya itu terbilang aneh. “Karena sedang tidak musim buang mangga,” jelas Monika. Tak dinyana, malamnya ada seorang suster datang dan membawa buah mangga untuk ayah dan ibunya. Ternyata, Tuhan menggenapinya melalui kasih seorang suster. Tak hanya itu saja. Setelah sang ayah merelakan Monika membiara, selalu terjadi hal-hal di luar dugaan dalam keluarganya.

Doa rosario telah mengubah hati ayahnya. Pada 22 Juni 1980 Monika mulai mencecap pendidikan di Postulan Kongregasi Suster-suster Santa Bunda Maria (Suster-suster Notre Dame)
Hingga kini Monika tak pernah putus berdoa rosario. ia selalu mendoakannya. “Sebagaimana orang makan setiap hari, doa rosario sebagai nutrisi dalam kehidupan rohani,” demikian penulis buku “Ketika Tuhan Menyentuh” ini.

Sebagai suster SND, doa rosario tidak hanya sebagai doa wajibnya. Lebih dari itu, sebagai doa pribadinya. Bahkan, jika Monika bepergian naik angkot, bus umum atau sedang menunggu, otomatis ia berdoa rosario.

Menegakkan Kebenaran
Dalam menjalani hidup membiara, suka duka mewarnai hidupnya. Terlebih dengan kiprahnya di dunia pendidikan. Sejak mengikrarkan kaul sementara, Monika selalu berkarya di bidang pendidikan. Mulai dari tingkat taman kanak-kanak sampai sekolah menengah.

Pada tahun 2003 Monika diserahi tugas sebagai Kepada Sekolah Dasar Notre Dame Jakarta Barat. Awal memulai karyanya, ia merasakan sekolah swasta seperti “perahan” sekolah negeri. Oknum pemerintah selalu menarik iuran pada sekolah-sekolah swasta. “Ketika saya menanyakan untuk apa dan minta tanda bukti, justru selalu dipersulit,” cerita boarawati yang menjalani masa tersiat dan kaul kekal di Biara Induk Roma, Italia ini.

Monika tak takut dibenci karena kebenaran. “Sebenarnya, apabila orang berani karena benar, mereka takut berbuat macam-macam,’ sambungnya. Berkat perjuangan Monika, akhirnya oknum petugas itu dimutasikan.

Monika terbiasa berdoa rosario sejak kelas 1 Sekolah Dasar. Ia selalu memohon bimbingan Tuhan melalui doa rosario. Sekarang pun manakala permasalahan hidup menyergapnya, Monika tekun mendaraskannya.

Sumber: Budak Bangka

image_pdfimage_print

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*