Keluarga Merindukan Anak

Anak memang merupakan tujuan perkawinan, namun bukanlah satu-satunya. Masih ada tujuan perkawinan lainnya, yaitu kesatuan suami istri karena hal itu ditunjukkan dalam Kej 1: 28 “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: ’ beranak-cuculah dan bertambah banyak …’” Jadi pertama kali Allah memberkati suami isteri kemudian baru keturunan, sebagai buah dari perkawinan. Tetapi sering kita jumpai pasangan suami isteri mengalami kesulitan untuk mendapatkan keturunan dan ini tidak membatalkan perkawinan.

Namun secara manusiawi dan secara kodrati memang suami istri memiliki kebutuhan mendalam untuk dapat memiliki keturunan. Bahkan sebagian kaum selibater pun ada kerinduan untuk bisa menjadi “orangtua”. Pernah suatu kali saya mengalami kerinduan mendalam ingin memiliki seorang anak untuk bisa dipeluk dan digendong. Namun saya sadar inilah salib yang harus saya pikul, suatu korban yang dipersembahkan untuk Tuhan sebagai seorang imam.

Ada sebuah kisah unik ketika saya mendampingi kelompok ziarah ke Tanah Suci. Pada saat akan merayakan ekaristi di salah satu gua di Padang Gembala,  ketika melewati anak tangga, saya hampir terpeleset jatuh. Tiba-tiba seorang anak remaja peserta ziarah berteriak spontan, “Daddy, hati-hati.” Ia memanggil saya “Daddy”, spontan lagi … Waktu itu saya merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Saya mendapat kado indah dalam peziarahan itu dari seorang anak, apalagi suatu kali dengan bangga ia berkata: “Saya mempunyai seorang Papi (yaitu ayah kandungnya yang ikut juga dalam ziarah itu) dan seorang Daddy.”

Untuk pasangan muda yang merindukan seorang anak, tentulah kehadiran buah hati amat sangat dinanti. Kehadiran anak dalam keluarga bukan hanya sekedar mengisi “kekosongan” ruang hidup dalam keluarga, melainkan juga untuk melanjutkan keturunan dan sebagai “pembuktian” eksistensi keayahan dan keibuan pasangan suami istri. Namun perlu disadari, ada keluarga yang mudah mendapatkannya (satu tahun setelah berkat langsung punya anak), dan apa pula keluarga yang butuh waktu yang panjang. Sesulit dan selama apapun, tetap dibutuhkan perjuangan. Jangan menyerah!

Dalam perjuangan itu, aneka cara, yang halal, dapat ditempuh. Langkah pertama adalah cara medis. Selain memeriksa kesehatan fisik dan psikis yang menunjang kehamilan dan kelahiran, perlu juga melakukan terapi hormon. Jika cara medis belum membuahkan hasil, tidak salah kalau menempuh langkah kedua, yaitu cara spiritual. Cara ini dapat dilakukan dengan berdoa, berziarah, novena, puasa, dll.  Harus disadari, sebagai umat beriman, kita tahu bahwa kelahiran, jodoh, rejeki dan kematian itu Tuhan yang atur. Karena itu, sikap berserah diri perlu ditanamkan. “Terjadilah pada kami menurut kehendak-Mu, ya Tuhan!”

Langkah lain adalah cara sosial. Pasangan suami istri dapat mengadopsi anak. Silahkan berkunjung ke salah satu panti asuhan. Orang biasanya akan mudah jatuh cinta terhadap salah satu anak yang ada di sana, dan bisa saja itu jadi jodoh, baik bagi pasangan suami istri maupun anak itu. Ada banyak juga orang, sesudah mengangkat anak, kemudian bisa memiliki keturunan sendiri. Yang jelas banyak anak yang membutuhkan kasih sayang dan pertolongan.

Jika tetap ingin darah daging sendiri, coba saja kembali ke dua langkah di atas. Jangan putus asa! “Barang siapa mengetuk, pintu akan dibukakan, siapa yang meminta akan diberi …” Percayalah!***

 

Fut Khin, MSF

Seksi Keluarga Kevikepan Babel

image_pdfimage_print

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*