Kasih Tidak Berkesudahan

Kami menikah tepat pada bulan April tahun 2000 di Jakarta. Kami berdua berasal dari dua kultur dan latar belakang yang berbeda di mana istriku berasal dari Kalimantan dan saya berasal dari Sumatra. Kami bertemu di Jakarta dan berteman selama hampir 6 tahun sebelum akhirnya ke pernikahan. Latar belakang agamaku adalah Kong Fu cu dan menjadi katolik pada tahun 1999 sedangkan istriku sudah menjadi katholik sejak remaja. Selama 15 Tahun pernikahan kami tidak ada gejolak dan damai-damai saja bahkan datar. Kami merasa berbahagia bisa ikut banyak kegiatan bersama terutama dalam pelayanan di lingkungan gereja kami.

Namun kami sering ditawarkan ikut Week End Mariage Encounter (WEME) waktu itu di Jakarta dan selalu kami tolak dengan berbagai alasan. Waktu itu kami berpikir bahwa selama ini kami tidak punya masalah dalam perkawinan kami dan semua aman-aman saja. Akan tetapi semua kelihatannya berbeda setelah kami pindah kembali ke daerah Kepulauan Riau terutama di Batam ini 4 tahun yang lalu.

Dalam hal ini istriku tidak biasa dengan kultur di Kepulauan Riau ini. Di sini orang bicara lebih keras dan spontan serta blak-blakan, kalau sudah kumpul sukanya minum-minum sampai mabuk di malam hari. Semua ini awalnya tidak masalah namun lama-lama mulai timbul masalah terutama berhubungan dengan relasi kami apalagi berhubungan dengan keluargaku.

Sebagian keluarga besarku ada di Kepulauan Riau ini membuat saya lebih sering bersama mereka. Hal ini membuat istriku menjadi asing tersendiri. Terkadang saya melihat dia diam-diam menangis sepertinya sangat merindukan keluarganya yang di Jakarta. Saya kurang peka dan cenderung masa bodoh terhadap hal ini. Awalnya kami berpikir dengan bekal kami di pelayanan waktu di Jakarta bisa mengatasi semua ini.

Akan tetapi semua menjadi sulit bagi istriku, dia harus berteman dengan keluarga dengan kultur berbeda, menjadikan dia sulit sekali beradaptasi. Istriku mempunyai kepribadian seorang pemikir, organizer dan perfeksionis ditambah dengan perasaan yang sangat peka terhadap omongan dan suara yang keras. Sedangkan saya yang sudah terbiasa karena lahir dan tumbuh besar di situasi dan kondisi di sini menjadikan saya sangat cepat beradaptasi dan bahkan kembali ke habitatku yang lama. Sikapku yang cuek dan blak-blakan membuat istriku heran. Dan saya mulai bicara keras, kasar dan pulang malam terutama suka berkumpul-kumpul dengan teman sambil minum-minum. Kegiatan seperti itu membuat istriku tidak bisa terima, relasi kami mulai bermasalah, dimana kami mulai sering berbeda pendapat bahkan beradu mulut untuk hal-hal kecil. Saya selalu mengeluarkan kata kata yang menyakitkan hati pasanganku.

Dalam situasi seperti itu tawaran WEME kepada kami membuat kami berpikir mungkin ini cara yang terbaik untuk mengatasi masalah relasi kami. Namun seperti biasa kami menolak lagi sampai suatu ketika ada teman yang mau ikut dan mengajak kami supaya istriku bisa menemani istrinya yang juga menolak dengan keras ikut. Timbullah rasa kasihan dan jiwa pelayanan kami untuk menolong pasangan ini kenapa kita tidak coba untuk ikut supaya mereka bisa selamat.

Jadi dengan motivasi rasa ingin menolong pasangan tersebut biar relasinya pulih kembali maka kami pun ikut. Padahal kami sendiri juga lagi kacau relasi dan hubungan selayaknya suami istri. Nekat sajalah kami berpikir padahal di Jakarta sudah puluhan kali kami menolak dengan alasan tidak butuh karena kesombongan rohani.

Pada awal ikut WEME saya yang biasanya bicara blak-blakan sulit untuk berdialog dalam bentuk menulis surat cinta. Saya berpikir sangat kolot dan ketinggalan zaman kalau harus bedialog seperti itu. Akan tetapi perlahan-lahan lewat setiap sesi membuat saya sangat terkaget-kaget bahwa selama ini saya telah punya pengertian yang salah total tentang dialog. Kami mulai menyadari bahwa selama ini ternyata anggapan kami yang benar ternyata tidak selalu benar, banyak hal yang kami pelajari dan mulai merasakan malu bahwa di usia perkawinan yang masih tergolong muda baru 15 tahun dibandingkan peserta yang lain kami masih sangat dangkal dan jauh dari relasi dan dialog yang  ideal. Kami yang merasa sudah 15 tahun ini berelasi dengan baik ternyata berantakan. Tiba-tiba mata kami terbuka bahwa kami harus lebih sering melakukan dialog dan berelasi dalam mempertahankan perkawinan kami.

Saya pribadi sangat bersyukur bahwa lewat WEME ini kami dipulihkan, diberikan warna dalam relasi kami. Kami semakin saling mencintai dan kami benar-benar menghargai satu dengan yang lain. Setiap perpecahan dan keributan kecil bukan lagi menjadi bencana bagi kami tetapi kami bisa cepat membuat itu menjadi damai dan kembali berelasi normal danindah. Kami percaya pengalaman apapun yang kami alami apabila dibagikan kepada sesama menjadi sangat berarti. Kalau pasangan lain juga bisa mesra, romantik dan bergairah kenapa kami tidak. Semua itu akan menjadikan kita pasangan yang terbahagia sampai selamanya. Motivasi tinggi untuk membuat perkawinan ini menjadi sakramen yang suci dan indah di mata Tuhan dan sesama.

Dan sebagai akhir kata kami mau mengatakan “ANDA adalah PASANGAN yang  SANGAT  LUAR BIASA” karena mau meluangkan waktu yang berharga untuk RELASI Anda berdua, untuk saling mengenal satu sama yang lain.

Doa kami semoga semua pasangan di dunia ini bisa mendapatkan MUTIARA-MUTIARA CINTA yang indah dari TUHAN dan ANGGUR  MANIS yang  tak akan ada habisnya. Dan kami percaya apabila Anda mau berbagi pengalaman ini kepada sesama pasangan maka pastinya kalian akan lebih HARMONIS, BAHAGIA,  MESRA, SETIA dan lebih TERBUKA.

Selamat untuk semua pasangan WEME, TUHAN memberkati.

WE LOVE YOU – WE NEED YOU

BATAM , 01 Agustus 2015

Love

ANTHONY  SUSIE

image_pdfimage_print

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*