Mengenal Couple For Christ

Saya mau mengutip Surat Gembala Uskup Pangkalpinang pada bulan syukur 2015: “Panggilan untuk Hidup Bakti yang muncul dalam diri seorang anak, pada akhirnya sangat ditentukan oleh situasi keluarga darimana dia berasal. Situasi di dalam rumah, situasi ayah dan ibu, situasi saudara dan saudarinya, akan sangat menentukan apakah Panggilan Hidup Bakti itu bisa hidup dan berkembang.”

Karena itulah dalam komunitas Couples for Christ, setiap anggota keluarga diberi wadah yang sesuai sekaligus tepat seiring dengan babak-babak dalam kehidupannya. Sesuai dengan harapan dari Komisi Keluarga KWI bahwa pendampingan keluarga dilakukan secara berjenjang. Demikianlah CFC hadir memenuhi kebutuhan pendampingan bagi keluarga-keluarga Katolik.

Dimulai dengan keprihatinan antara banyaknya umat Katolik dan sedikitnya imam, pada 1986 di Manila sejumlah pasangan suami-istri Katolik membentuk kelompok dengan tujuan membantu para imam dalam melakukan pastoral keluarga. Mereka menyadari bahwa awal mula pembentukan kepribadian seseorang adalah di dalam keluarga. Karena itu, keluarga adalah fondasi pertama dan terpenting dalam membentuk iman serta kepribadian seseorang.
Kelompok ini menamakan dirinya Couples for Christ (CFC) atau Pasangan untuk Kristus. Nama ini mengandung arti pasangan suami-istri yang mempersembahkan dirinya untuk Kristus. Persembahan ”diri” dalam hal ini berarti melibatkan diri dalam keperluan pelayanan dan evangelisasi.

Visi CFC adalah membangun keluarga di dalam Roh Kudus yang memperbarui muka bumi. Sedangkan misinya adalah membawa kabar baik bagi yang miskin.
Pada 2000 CFC mendapatkan pengakuan dari Bapa Suci Yohanes Paulus II sebagai kelompok awam yang bergerak dalam pendampingan keluarga. Kini, kelompok ini tersebar di 150 negara setelah diawali di Manila pada tahun 1986. Ada dewan internasional dan dewan nasional. Di Keuskupan Pangkalpinang dipimpin oleh Pasukris Benny Sorliam

Awalnya, komunitas ini hanya beranggotakan pasangan suami-istri. Tetapi selanjutnya, dalam pernikahan lahirlah anak-anak. Alhasil, ada kebutuhan untuk membentuk Family Ministry. Mereka mulai membentuk Kids for Christ. Tak berhenti sampai di sini, anak-anak tumbuh menjadi remaja, mereka masuk dalam komunitas Youth for Christ. CFC menyadari ada kebutuhan emosional yang berbeda antara anak-anak dan remaja sehingga komunitas ini harus dipisahkan. Mengapa melibatkan anak-anak? Bila iman pasutri tumbuh dengan baik, mereka pasti ingin iman anak-anak bertumbuh subur pula.

CFC sangat memahami perkembangan kepribadian seseorang sesuai babak-babak dalam kehidupannya. Karena itu, setelah menjadi anggota Youth for Crist, anak-anak tersebut masuk usia dewasa muda dan mulai bekerja (usia muda produktif ). Maka, dibentuklah kelompok Single for Christ.

Komunitas ini juga membantu kaum muda untuk menentukan ”panggilan” hidup mereka, baik menikah maupun selibat (menjadi kaum religius). Dengan memberikan pengajaran-pengajaran yang berdasarkan iman Katolik, anak muda dapat terbantu dalam memilih panggilan hidupnya dengan bebas namun tetap bertanggung jawab. CFC menghargai pilihan setiap orang baik berkeluarga, berselibat, atau melajang.

Bagi yang memilih menikah, ada kemungkinan pasangan suami-istri ini kembali hidup sendiri. Misalnya, bila pasangan meninggal, atau pasangan pergi merantau karena urusan pekerjaan sehingga menyebabkan hidup terpisah dari keluarga dalam waktu yang lama. Maka, dirasa perlu juga untuk membuat suatu wadah dalam Family Ministry CFC bagi para pria dan wanita yang hidup sendiri.
Lalu, komunitas pria yang memilih untuk hidup sendiri disebut Servants of the Lord, sedangkan untuk perempuan disebutHandmaids of the Lord. Anggota kelompok ini bisa terdiri dari lelaki/perempuan yang belum atau tidak menikah, mereka yang terpaksa tinggal terpisah dengan pasangannya karena urusan pekerjaan/pendidikan, dan para duda/janda. Yang termasuk dalam kategori ini adalah kaum ekspatriat/tenaga ahli yang harus pergi dari satu negara ke negara lain, karena tidak semua perusahaan tempat mereka bekerja memberi kesempatan/mengizinkan mereka membawa keluarganya.

Sebelum menjadi anggota CFC, para pasutri wajib mengikuti Christian Life Program (CLP) atau Seminar Hidup Kristiani. Dalam seminar ini diberikan 12 topik yang terbagi dalam tiga modul. Modul pertama tentang Kasih Allah, modul kedua tentang Keluarga Katolik, dan modul ketiga tentang Transformasi Iman dalam Kehidupan Umat Beriman. Setelah mengikuti program itu dan mereka memutuskan untuk bergabung dengan CFC, anggota baru CFC tersebut akan dibagi dalam kelompok yang disebut House Hold yang sesuai dengan katagori yang ada. Misalnya, pasutri tergabung dalam Couples of Christ, sementara pemuda/pemudi lajang dewasa bergabung dalam Singles for Christ.

Agenda utama masing-masing House Hold adalah pertemuan mingguan dari rumah ke rumah yang disebut Household MeetingHouse Hold terdiri atas 5-7 pasangan suami-istri berdasarkan area tempat tinggal. Dalam kelompok ini pertemuan diawali dengan doa dan pujian bersama. Setelah itu, bagian yang penting adalah sharing kelompok. Topik sharing disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

Topik sharing tidak selalu berbicara tentang kesulitan. Mereka dapat berbagi kebahagiaan yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Sebulan sekali semua komunitas bergabung bersama mengadakan pertemuan besar yang disebut General Assembly.

RD Yosef Setiawan

sumber:

  1. http://www.hidupkatolik.com/2012/01/12/couples-for-christ-mempersembahkan-keluarga-untuk-kristus
  2. Surat Gembala Uskup Pangkalpinang Bulan Syukur 2015: Benih Hidup Bakti dari Tanah Bernama Keluarga
image_pdfimage_print

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*