32 Tahun Mengarungi Bahtera Rumah Tangga

Kami menikah pada 11 Agustus 1984. Perjalanan waktu selama tigapuluh dua tahun mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga, dengan suka dukanya bersama keluarga. Sepanjang tahun-tahun itu kami lalui dengan tawa, riang gembira tapi juga dengan tangis dan kesedihan.

Tuhan mengaruniai kami 4 orang putri, tiga sudah selesai pendidikan dan kerja, satu masih kuliah. Itu semua adalah rahmat dan karunia Allah yang sangat luar biasa bagi kami, karena secara hitungan matematis kami tidak mampu untuk mencapai semua ini. Kami selalu bersyukur dan bersyukur atas rahmat Allah tersebut yang juga selalu kami terima setiap saat.

Apa yang menguatkan kami dalam menghadapi permasalahan dan persoalan dalam hidup keluarga?
Kami selalu ingat dan memegang teguh komitmen janji perkawinan Katolik, “apa yang dipersatukan Allah jangan diceraikan manusia” Ini menjadi pegangan kami sehingga dapat menguatkan dan meningkatkan perjalanan perkawinan menjadi semakin kuat, mesra dan tidak mudah goyah. Kami juga menerima tidak hanya kelebihan, kebaikan pasangan, terlebih kekurangan dan kesalahan pasangan, sehingga perselisihan, percekcokan, pertengkaran sering terjadi, tetapi harus kami selesaikan untuk mencapai kesepahaman, kesepakatan demi keutuhan perkawinan.

Kebahagiaan kami adalah bila dapat menyelesaikan permasalahan, persoalan yang terjadi dalam keluarga. Kami mempunyai prinsip bersama, segala permasalahan yang ada harus kami selesaikan sebelum kami tidur, karena kami menganggap besok ada permasalahan yang baru.

Dari segi keuangan kami memang jauh dari berlebihan, hanya cukup dan semua memang rahmat Allah yang memenuhi kebutuhan kami. Hidup dari gaji PNS yang hanya cukup untuk makan dan pendidikan anak, maka harus pintar-pintar mengaturnya. Kami tidak mengejar kebahagiaan, tapi kami mengusahakan kekudusan keluarga. Kami takut mencari kebahagiaan, takut kecewa kalau tidak dapat mencapainya, di samping itu kebahagiaan itu hanya sesaat saja. Untuk mencapai kekudusan kami usahakan dengan mendekatkan anggota keluarga dengan kegiatan gereja, mulai dari anak-anak dan kami orangtua. Kami melibatkan seluruh anggota keluarga supaya tidak ada yang tercecer, jatuh dalam dosa, keselamatan untuk semua anggota keuarga.

Kami juga sering mengikuti kegiatan pembinaan rohani untuk keluarga dengan mengikuti rekoleksi, retret, seminar, dan baca-baca buku dan sharing/belajar dari saudara yang lain. Kami anak-anak ikut sekolah minggu, remaja katolik, misdinar, Legio Maria, jadi petugas pelayan ibadat: misdinar, lektor, pemazmur, organis, asisten imam dan juga aktif dalam kegiatan paroki.

Kegiatan yang sangat menopang kami adalah dengan ikut kelompok kategorial, PASUKRIS (Pasangan untuk Kristus atau CFC: Couples for Christ), dimana melibatkan seluruh anggota keluarga: Pasangan suami/isteri dalam CFC, anak-anak dalam KFC – Kid for Christ; anak remaja dalam YFC – Youth for Christ; dan kaum muda dalam SFC – Singles for Christ. Dengan ini kami mendapat bimbingan, panduan dan terlebih pengalaman sharing dari sesama pasangan yang menguatkan perkawinan kami dan seluruh anggota keluarga. Kami juga belajar mencintai Sabda Tuhan sebagai sumber dan pegangan hidup keluarga (dalam CFC ada komitmen membaca dan berdoa minimal masing-masing 15 menit setiap hari).
Bagaimana kami membekali pendidikan iman anak-anak?

Seperti kami telah melibatkan anak-anak dalam kegiatan dan pelayanan, sedari dini kami menanamkan kejujuran, kerukunan, kemandirian dan tanggungjawab.

Kebutuhan atau keinginan?

Kami tidak menuruti keinginan anak dalam membeli sesuatu, tetapi kebutuhan anak. Kami juga tidak membelikan mainan/barang untuk semua anak bersama-sama, tetapi hanya anak yang membutuhkan saja. Misalnya anak no 2 butuh tas, kita ramai-ramai ke toko beli tas tersebut hanya untuk anak tersebut. Sementara anak lain diajak tetapi tidak dibelikan apa-apa, justru mereka ikut memilihkan, mencarikan yang cocok/baik untuknya. Kami juga tidak menuruti permintaan setiap anak yang kami pandang tidak penting/perlu. Untuk menunjang pendidikan kami usahakan sedapat mungkin.

Demikian untuk mainan, beli satu untuk main bersama, bergantian tidak boleh berebut. Kami selalu mengingatkan anak-anak untuk selalu rukun dengan saudara, orang lain saja diminta untuk rukun, apalagi saudara kandung. Adik-adik menghormati dan nurut sama kakak, sedangkan kakak melindungi dan mengasihi adik-adiknya.

Dalam pendidikan fomal/sekolah, kami tidak menuntut anak mendapat rangking, memaksa untuk belajar dengan jadwal dan waktu tertentu, ikut kursus atau bimbingan belajar. Mereka belajar, kami bebaskan kapan dan bagaimana mereka gaya/metode belajar sesuai selera dan gaya mereka sendiri. Ada yang sambil nonton tv, dengar musik atau sambil tiduran, terserah mereka dengan waktu sesukanya. Dalam memilih jurusan pendidikan kami juga tidak memaksakan keinginan kami, tapi kami serahkan kepada mereka dengan alasan apa masuk suatu bidang/jurusan
Kami selalu mengajarkan syukur dan bersyukur sehingga tidak terjadi keinginan berlebihan, ambisi dan serakah yang menimbulkan perbuatan tidak baik, melanggar hak orang lain (anak minta uang dan bila ayah atau ibu salah satu sudah memberi, tidak mau dikasih lagi untuk tujuan yang sama/dobel). Kami juga mengajak untuk kegiatan sosial agar mereka paham arti hidup yang sesungguhnya dalam masyarakat dan memahami bahwa diluar banyak anak yang kurang beruntung.

Demikianlah sharing pengalaman kami dalam hidup berkeluarga. Mudah-mudahan sharing ini dapat berguna bagi para saudara seiman dalam mengarungi bahtera hidup yang penuh tantangan dan harus diperjuangkan.

Berkah Dalem, Tuhan memberkati.
Batam Agustus 2016

image_pdfimage_print

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*