Protestan dan Maria

ADA APA SOAL DEVOSI PROTESTAN KEPADA BUNDA MARIA?

Agama Protestan dan Katolik adalah sama-sama pengikut Kristus. Tetapi pertanyaannya adalah mengapa ada yang hal yang harus berbeda? Ada satu perbedaan yang cukup menonjol hingga dewasa ini adalah eksistensi Bunda Maria. Bagaimana tanggapan para Teolog dari kalangan Protestan di kanca dunia dan lokal?

Pandangan Tokoh Reformator Level Dunia

Penghormatan kepada Maria tidak menjadi monopoli Gereja Orthodox dan Gereja Roma Katolik saja, karena gereja Lutheran dan gereja Anglikanpun menghormati Maria, demikian juga saat terjadi perpecahan dalam tubuh Gereja Katolik yang menimbulkan gerakan reformasi yang dimulai oleh Martin Luther, yang akhirnya melahirkan gereja-gereja Protestan. Para reformator sendiri (Luther, Kalvin, Zwingli) serta teolog Protestan awal masih menghormati Maria dan menerima ajaran Gereja Kuno tentang Maria (Bunda Allah, keperawanan Maria sebelum dan sesudah mengandung, kesucian Maria). Mereka hanya memprotes devosi (hidup bakti) kepada Maria yang berlebih-lebihan yang berkembang pada abad pertengahan dalam Gereja Katolik.

Baru sejak abad XVI, seiring perpecahan yang semakin lebar antara Gereja Katolik dan Protestan, sebagai sikap anti Katolik, di kalangan umat Protestan pada waktu itu berkembang juga sikap anti Maria. Akibatnya, devosi kepada Maria yang diwariskan oleh para reformator (Luther, Kalvin, Zwingli) berangsur-angsur memudar dalam kalangan umat Protestan. Tampaknya, banyak umat Protestan sulit terlepas dari trauma sejarah yang sangat panjang dari kekatolikan. Segala unsur yang dianggapnya berbau Katolik ditolak. Walaupun doa dan penghormatan kepada Bunda Maria masih dilakukan oleh Luther dan Zwingli (1484 – 1531), yang masih mempertahankan doa “Salam Maria” dalam ibadat umum.

Seperti kita ketahui Gereja Orthodox Timur, Gereja Roma Katolik, gereja Anglikan dan Lutheran adalah Gereja-Gereja yang mempunyai devosi dan penghormatan besar terhadap Sang Theotokos, Bunda Maria. Oleh karena itu tidak ada pembahasan pendapat para teolog Gereja-Gereja ini tentang Bunda Maria. Di bawah ini adalah pandangan Bapa Reformasi Protestan, Martin Luther tentang Maria Sang Theotokos.

Martin Luther (Eisleben, Jerman, 10 November 1483 – 18 Februari 1546 idem) adalah seorang pastor dan biarawan Ordo St. Agustinus (O.S.A) Jerman dan ahli teologi Kristen dan pendiri Gereja Lutheran, gereja Protestan, pecahan dari Katolik Roma. Dia merupakan tokoh terkemuka bagi Reformasi. Ajaran-ajarannya tidak hanya mengilhami gerakan Reformasi, namun juga mempengaruhi doktrin, dan budaya Lutheran serta tradisi Protestan. Seruan Luther kepada Gereja agar kembali kepada ajaran-ajaran Alkitab telah melahirkan tradisi baru dalam agama Kristen. Gerakan pembaruannya mengakibatkan perubahan radikal juga di lingkungan Gereja Katolik Roma dalam bentuk Reformasi Katolik.

Nyatanya Martin Luther mempunyai kebaktian besar kepada Maria. Ia banyak menulis tentang dia: membela keperawanannya yang kekal. Ia memasang gambar Santa Perawan di kamar studinya. Dengarkanlah doanya dalam meditasi indah mengharukan tentang Magnifikat :

“Perawan terberkati, Bunda Allah, engkau tadinya bukan apa-apa dan terhina; namun Tuhan dalam belas kasihNya melihat engkau dan mengerjakan hal-hal begitu besar dalam dirimu. Engkau tidak pantas untuk semua itu, tetapi rahmat Allah kaya dan limpah datang padamu, lebih daripada kepantasanmu. Salam kepadamu! Terpujilah engkau, mulai hari ini dan untuk selanjutnya, karena engkau menemukan Tuhan begitu mulia”.

Berikut ini petikan dari Martin Luther tentang Bunda Maria, petikan-petikan ini diambil dari tulisannya setelah memulai gerakan Reformasi Gereja.

“Sungguh pantas apabila sebuah kereta kencana emas mengiringi dia, dengan ditarik oleh empat ribu kuda dengan abdi utusan yang meniup sangkakala serta dengan lantang ber¬seru: “Lihatlah dia, Bunda Yang Agung, Putri Umat Manusia” tetapi yang ada hanyalah: seorang Perawan berjalan kaki dalam sebuah perjalanan jauh untuk mengunjungi Elisabet. Perjalanan ini ditempuhnya walaupun saat itu ia sudah menjadi Bunda Allah. Bukan merupakan sebuah keajaiban apabila kerendahan hatinya dapat membuat gunung-gunung melonjak menari sukacita”.

“Melalui perkataannya sendiri dalam Magnificat (Lukas 1:46-55), dan melalui pengalamannya, Maria mengajar kita bagaimana caranya mengenal, mengasihi dan memuji Allah… Sejak awal, umat manusia telah menyimpulkan segala kemuliaan yang diberikan kepada Maria di dalam sebuah kalimat: “Bunda Allah”. Sekalipun manusia mempunyai lidah sebanyak daun di Pohon, rumput di padang, bintang di langit atau pasir di lautan, tak seorangpun mampu mengatakan hal yang lebih agung kepada Maria atau mengenai Maria.”.

Lebih lanjut Sang Bapa Reformator mengatakan tentang Keperawanan Maria: “
Kristus, penyelamat kita, adalah buah rahim yang nyata dan alami dari Maria… Ini adalah tanpa campur tangan lelaki, dan dia tetap perawan setelah itu. Kristus… adalah satu-satunya anak dari Maria, dan Perawan Maria tidak mempunyai anak lain selain Dia…. Aku merasa setuju dengan pernyataan bahwa “saudara” berarti “sepupu” disini, karena tulisan suci dan orang Yahudi selalu memanggil sepupu dengan saudara.

Pandangan Tokoh Reformator Kelas Lokal

Setelah menyimak pandangan para Reformator kelas dunia, kini saya mencoba menghadirkan pendapat dari beberapa teolog Protestan level Nasional.

Pdt. Joas Adiprasetya (Rektor Sekolah Tinggi Teologi: STT Jakarta) memaparkan bahwa Protestantisme bukan kelompok tunggal, tapi secara umum dibagi dua. Pertama, yang secara positif menerima dan mengakui eksistensi unik Maria dalam sejarah keselamatan. Martin Luther bisa mewakili kelompok ini. Kedua, yang menolak peran unik Maria. Maria tetap dihormati, tapi tak punya tempat khusus. Ini diwakili oleh Jean Calvin.

Di Indonesia, sebagian besar Gereja Kristen masuk pada golongan Calvinisme. Ada juga aliran Lutheran, meski biasanya sudah terjadi percampuran Lutheran dan Calvinis. Calvinisme di Indonesia begitu kuat, hingga sikap Protestan terhadap Maria tak terlalu menonjol, jelas pendeta Gereja Kristen (GKI) Pondok Indah, Jakarta ini.

Menurutnya, beberapa doktrin dasar Maria diterima Luther, misal: Bunda Kristus, Ibu Yesus, Terlahir Tanpa Noda, Tetap Perawan bahkan setelah melahirkan. Luther memegang prinsip finitum capax infiniti (yang terbatas mampu mengandung, merangkul yang tak terbatas). Bagi Luther, Kristus tetap Sang Penyelamat yang dihadirkan lewat Maria. “Tapi Maria bukan yang menghadirkan keselamatan, hanya Kristus”.

Lain halnya dengan Calvin yang berprinsip finitum non capax infiniti. Calvin tidak percaya Maria punya peran efektif apapun, hanya Kristus satu-satunya mediator. Maka Gereja Protestan hanya mengakui Maria sebagai orang baik yang dipilih Allah sebagai ibu Yesus.

Meski demikian, Pdt. Joas menengarai penghargaan pada Maria mulai berkembang dalam Protestantisme global akhir-akhir ini. Tiap kelompok punya cara menghayati iman secara berbeda. Namun penghayatan itu muncul karena pentingnya Kristus. Maria diakui dan dihormati sebagai Bunda Kristus, ibu Yesus. Banyak muncul Mariologi di kalangan Protestan yang berkembang di dunia. Cukup banyak juga buku yang menunjukkan teologi Protestan tentang Maria.

Sementara itu, Ketua Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII), Pdt. Solfianus Remias mengungkapkan Maria ialah ibu Yesus. Ia gadis desa yang dipilih Allah untuk mengandung Yesus sehingga punya kedudukan istimewa dibandingkan perempuan lain. Pendeta Solfianus menegaskan bahwa ketika Maria berkata: “Terjadilah padaku sesuai dengan kehendak-Mu”, ungkapan itu sesungguhnya keluar dari mulut seorang yang mempertaruhkan hidupnya demi Kristus. Artinya Maria telah selesai dengan dirinya.

Baginya, Maria siap menerima apapun yang Tuhan inginkan. Beliau sangat menghormati Maria. Ia mengakui bahwa Maria adalah orang yang bersikap tenang sebagai sikap penyerahan diri. Ia hidup untuk Kristus. Tuhan menggunakan Maria sebagai model. Maria selesai dengan dirinya dan dipakai Tuhan untuk ambil bagian serta memiliki peran dalam karya keselamatan Kristus.

Gereja Katolik berlomba untuk menghormati Maria sebagai Bunda Allah tetap Perawan. Harus kita ingat bahwa kedua pengakuan Mariologis itu terjadi di Timur dan diumumkan secara khidmat dalam Konsili Efesus (431). Maka kedua pengakuan-Maria Bunda Allah dan Maria tetap Perawan-menjadi tempat berpijak bersama yang sangat penting. Bahkan di antara pendiri Protestan, ajaran tradisional tentang keperawanan dan keibuan Maria ini sangat dijunjungtinggi. Biasanya yang menjadi faktor pemisah adalah ajaran tentang Maria sebagai pengantara, Maria dikandung tanpa noda dan Maria diangkat ke surga. Akan tetapi, sering kali sikap anti Maria di kalangan teolog Protestan ini muncul terutama karena penyangkalan mereka akan keilahian Yesus. Atas dasar itu, maka pendapat mereka tentang Maria cenderung bertentangan dengan ajaran Katolik.

Maria dan Gerekan Ekumenisme

Ekumenisme merupakan salah satu tujuan Konsili Vatikan II. Ekumenisme ini bagaikan suasana yang meresapi seuruh jalannnya Konsili dari awal sampai akhir. Gagasan kesatuan umat Kristiani inilah yang terdapat dalam pikiran Paus Yohanes XXIII ketika ia mengundang Konsili pada tanggal 25 Desember 1961 dalam Konsili Apostolisnya Humanae Salutis. Dalam konstitusi apostolis yang sama itu, beliau mengundang semua saudara terpisah untuk bergabung dalam doa dan beliau mengumumkan dibentuknya suatu sekretariat khusus bagi Kesatuan Umat Kristiani.  Dalam Konstitusi tentang Gereja, ketika mengulas masalah yang peka yaitu tentang Bunda Allah, Konsili dua kali menunjukkan keprihatinan ekumenisnya (LG 67 dan 69).

Hal yang harus diingat ketika berbicara soal ekumenisme adalah doa terakhir Yesus: “Semoga mereka menjadi satu, seperti Engkau dan Aku adalah satu” (Yoh 17:11-21). Yang berhak berbicara dan berharap akan Kesatuan Umat Kristiani hanyalah mereka yang menyatukan diri meliputi akal budi (berpikir) dan perasaan (merasakan). Ini berarti bahwa mereka yang mengutamakan unsur lain (kebangsaan, kebudayaan, dll) tidak berhak berbicara tentang Maria dan Kesatuan Umat Kristiani, sebab mereka akan mengukur yang besar dalam Kerajaan Surga dengan ukuran mereka sendiri itu. Tolok ukur yang benar haruslah “Melakukan Kehendak Bapa” (Mat 3:35).

Kita tidak meragukan bahwa Yesus dalam Maria adalah sumber kesatuan. Tetapi Yesus dan Maria begitu mencintai kita dan menghargai kebebasan kita sehingga mereka tidak mau memaksakan  keinginan dan kehendak mereka akan kesatuan. Kita sebagai umat Kristianilah yang berusaha untuk melaksanakan kehendak Yesus itu sendiri.

LS Dihe

image_pdfimage_print

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*